Saturday, September 15, 2007

esai

ANTARA SENSASI DAN DEKONSTRUKSI
(Tanggapan untuk Wilson Nadeak)
Oleh: Sunlie Thomas Alexander*

MEMBACA tulisan Wilson Nadeak di Kompas Minggu, 22 Oktober 2006 lalu yang berjudul “Sensasi, Asumsi, dan Sastra”, saya tidak habis pikir, mengapa seorang sastrawan yang dikenal telah lama malang-melintang di ranah sastra Indonesia bisa menulis dengan begitu naifnya dalam melontarkan kritikan atas novel best seller karya Dan Brown, The Da Vinci Code. Bukan saja tulisan pendek tersebut tidak menyentuh sama sekali sisi estetika dan perspektif sastra, tetapi juga terasa sebagai sebuah upaya “pembelaan iman” yang sia-sia.

Antara Sensasi dan Dekonstruksi
Saya rasa, seorang Wilson Nadeak tentunya mengerti tentang apa yang disebut dekonstruksi dalam kesenian, dalam hal ini sastra. Tetapi dalam tulisannya tersebut, Wilson seolah-olah menerjemahkan apa yang dilakukan oleh Dan Brown dalam novel The Da Vinci Code lebih sebagai sensasi belaka. Menurut Wilson, sensasi itu telah menjadi sebuah sarana untuk menjungkirbalikkan nilai-nilai yang ada dan dipercaya sebagai sesuatu yang hakiki. Meskipun benar, bahwa sejauh terkait dengan tema besar yang sudah lama dikenal umum sebagai sebuah keyakinan dan kepercayaan, sebuah “sensasi” akan selalu membuat orang tertarik, apalagi tokoh yang diteladani dari abad ke abad tersebut diberi “label” baru yang bertentangan sama sekali dengan ciri khas tokoh itu.
Tetapi persoalannya, Wilson seakan begitu keberatan kalau tokoh Yesus Kristus di tangan Dan Brown menjadi tidak lebih dari manusia biasa yang sarat dengan masalah kemanusiaan dengan segala kelemahannya. Dengan kata lain, membayangkan secara kreatif seorang tokoh Yesus harus diharamkan. Padahal dalam keempat Injil yang diakui oleh Gereja sendiri, Yesus sering digambarkan amat profan. Dia bisa menangis ketika temannya (Lazarus) meninggal, Dia bisa berbelas kasihan pada seorang Maria Magdalena yang membasuh kakinya dengan air mata, Dia juga bisa marah ketika orang-orang berdagang di bait Allah, dan yang lebih pokok lagi serta kerap dijadikan kontemplasi penting oleh umat Kristiani adalah sosok Yesus yang gemetar ketakutan di Taman Getsemani dan keluhan terakhirnya di kayu salib yang terkenal itu: “Eli, Eli, lama sabakhtani!”.
Saya tidak mengerti, apa yang membuat Wilson sampai pada kesimpulan bahwa Dan Brown hanya mencari sensasi atas diri seorang tokoh besar yang “disucikan”. Walaupun hal itu seharusnya sah-sah saja untuk alasan komersial sebuah karya sastra, paling tidak agar karya itu menarik orang untuk membaca. Dan bahwa hal itu memang dimaksudkan oleh Dan Brown, saya juga tidak berani memungkiri. Tetapi saya berani mengatakan, kalau seorang Brown, seperti juga sekian banyak penulis lainnya tatkala menulis dari perspektif dan frame of view yang berbeda atas seorang tokoh atau peristiwa dalam “sejarah” atau sumber lainnya tidak mungkin tanpa kepentingan estetis atas karya selain demi semata-mata sebuah sensasi atas dasar komersialisasi seperti yang seolah dituduhkan Wilson.
Apa yang ditempuh Brown atas tokoh Yesus Kristus dan tokoh-tokoh “suci” lainnya dalam The Da Vinci Code, harus dilihat tak lain hendak memberikan nilai berbeda atas “sejarah” dan kesaksian (baca: Injil), sebuah upaya dekonstruksi yang teramat wajar dalam karya sastra. Bahkan justru sebuah upaya dekonstruksi cenderung wajib dilakukan oleh sastrawan, agar karya sastra menjadi karya sastra, tidak terjebak menjadi jiplakan kitab suci, catatan sejarah, atau laporan antropologi. Inilah kebebasan dalam sastra, sekaligus kekuatannya. Bayangkan saja, apa menariknya jika seorang tokoh dengan peristiwa yang sudah kita kenal ditulis kembali dalam bentuk cerpen atau novel sebagaimana adanya tanpa memberikan sebuah penafsiran ulang? Manfaat apakah yang bakal kita petik darinya? Bukankah lebih baik jika kita membaca “sejarah” aslinya daripada membaca cerpen atau novel yang menyontek mentah-mentah “sejarah” tersebut? Tak perlu jauh-jauh, jika kita menyimak karya-karya sastra (berbahasa) Indonesia yang muncul di koran-koran dan majalah atau diterbitkan dalam bentuk buku, baik itu berupa novel, cerpen, maupun puisi, akan dengan mudah kita temukan sekian banyak karya yang mencoba melakukan dekonstruksi atas entah itu sosok tokoh, peristiwa, dongeng, maupun adat. Saya ambil contoh, cerpen “Perempuan Tanpa Ibu Jari Kaki” karya Intan Paramadhita (Kumcer “Perempuan Sihir”, Katakita, 2005) misalnya, dengan terang-benderang membalikkan dongeng klasik “Cinderella” yang tentunya kita semua sudah hafal di luar kepala jalan ceritanya. Tetapi karenanya cerpen Intan Paramadhita itu justru punya bobot lebih, lebih menarik lantaran ia bercerita dari sudut pandang yang berbeda dan tidak lazim, yaitu dari kacamata saudara tiri Cinderella yang “jahat”. Atau cerpen “Perkamen” karya Yanto de Lahote (pernah dimuat Koran Tempo di tahun 2004 (saya lupa tanggal persisnya)) yang mencoba mengangkat “pembelaan diri” seorang tokoh Yudas Iskariot atas dosanya menjual Yesus yang selama ini kita kutuk, sebelum Injil Yudas sendiri kemudian diterbitkan dalam bahasa Indonesia oleh Pustaka Gramedia Utama. Juga sejumlah cerpen Dwi Cipta yang mencoba memberikan penafsiran kembali terhadap sejarah kolonial Hindia Belanda, dan Triyanto Triwikromo ketika mengangkat sosok Raden Saleh dalam sebuah cerpen yang saya lupa judulnya.
Namun bagi Wilson Nadeak dalam tulisannya, wilayah-wilayah sakral seperti yang diusik oleh Dan Brown dalam novel The Da Vinci Code merupakan wilayah tabu yang tak boleh dimasuki oleh kerja kreatif sastrawan/ penulis. Karenanya pikiran-pikiran dan imajinasi “liar” seperti itu harus dipangkas! Hal mana yang lalu mengingatkan kita pada kasus legendaris cerpen Ki Panji Kusmin, “Langit Tak Lagi Mendung”.
Secara terang, Wilson juga mengatakan kalau sastrawan sungguh tak pantas menjadi “si pengguncang iman”. Barangkali karena alasan bahwa karya sastra mesti “meluhurkan budi nurani”. Tetapi saya malah berpikiran sebaliknya. Karena bukankah sastrawan sesungguhnya tak memikul tugas suci sebagaimana para wali? Petaruhan sastra modern—untuk ini saya bersetuju dengan Nirwan Dewanto—lebih kepada petaruhan dengan bahasa dan perspektif. Saya tidak percaya pada sastra didaktik, sastra bukan khotbah moral dan keagamaan. Itu wilayah para rohaniawan. Justru sastrawan mesti berpotensi menjadi “iblis” yang menggoda “manusia baik-baik”, agar terus-menerus mempertanyakan diri, mempertanyakan kemapanan. Dan karena itu justru memperoleh “pencerahan yang kreatif”. Saya amat tertarik pada sebuah esai Damhuri Muhammad di Kompas Minggu, 22 Juni 2005, yang mengatakan bahwa jagat sastra adalah jagat cermin, “cermin hidup” (mir’ah al hayat) yang tidak pernah berdusta dalam memantulkan bayangan realitas kemanusiaan (secara) apa adanya, bayangan cantik rupa atau buruk rupa “wajah” zamannya. Bahwa sastrawan bukan nabi yang diutus untuk menyampaikan ajaran-ajaran moral (teks sastra bukan kitab suci yang mesti “ditaati” sebagai anutan moral), bukan filsuf yang terus menerus berkontemplasi untuk menemukan air mata kebenaran.

“Pembelaan Iman” Wilson Nadeak
Alih-alih memberikan kritikan yang esensial terhadap novel The Da Vinci Code, Wilson Nadeak dalam tulisannya tersebut malah terpelosok semakin dalam karena terkesan memberikan “pembelaan iman” yang ngotot atas “ketidakrelaannya” tokoh Yesus diobok-obok oleh Dan Brown. Misalnya saja, bagaimana dia dengan sedikit garang memberikan advokasi doktrinitas atas kisah kebangkitan Yesus. Bahwa “fitnah” serdadu Romawi yang disogok pimpinan agama Yahudi untuk menyangkal kebangkitan Yesus masih bergaung hingga sekarang. Bahwa tidak benar kalau status Yesus sebagai Tuhan baru disahkan pada Konsili Nicea atas perintah Konstantin Agung seperti yang diungkapkan oleh Dan Brown dalam novelnya. Hal ini sedikit konyol karena Wilson telah masuk terlampau jauh ke wilayah doktrinitas Gereja dan teologis. Bahkan Wilson dengan lantang mengungkapkan pembelaannya terhadap Gereja dan Alkitab, kalau tidaklah benar yang diungkapkan Brown bahwa keyakinan umat Kristiani didasarkan pada upaya pemimpin agama. Menurutnya, istilah mungkin dari pemimpin umat, tetapi wahyu (benar-benar) berasal dari Tuhan dan diterjemahkan ke dalam bahasa manusia yang secara konsisten dan utuh di lintasan milenium.
Saya tidak ingin ikut terjebak dalam polemik seputar wacana otentitas Alkitab yang sebetulnya kerap menjadi kontroversi itu, baik dalam lingkup umat Kristiani sendiri maupun lintas agama. Atau pun sekedar mengutip penafsiran-penafsiran teologis atas kebangkitan Yesus, bahwa kisah kebangkitan itu harus dibaca secara harfiah atau simbolik-metafora? Terlebih harus memperdebatkan “pembaptisan” Yesus sebagai Tuhan dalam Konsili Nicea atas perintah kaisar Kristen pertama, Konstantin Agung, yang kemudian menghasilkan “Pengakuan Iman Rasuli (Syahadat Para Rasul)” itu. Terlalu banyak hal yang dapat diperdebatkan seputar wacana-wacana ini. Misalnya saja, pernyataan Wilson bahwa “pengangkatan” Yesus sebagai Tuhan dalam Konsili Nicea seperti yang diungkapkan dalam novel The Da Vinci Code sungguh adalah kekeliruan karena jauh hari sebelumnya, pengakuan Yesus sebagai Tuhan sudah diterima oleh umat Kristiani. Wilson agaknya lupa, kalau Konsili Nicea diselenggarakan justru untuk menegaskan ketuhanan Yesus tersebut sebagai akibat banyaknya perbedaan faham di kalangan umat Kristiani atas status Yesus, baik sebagai Nabi, Mesias, atau Putera Allah. Juga pembagian persentasi antara kemanusiaan dan ketuhananNya.

The Da Vinci Code adalah Karya Fiksi
Barangkali di sini saya perlu mengingatkan, kalau sejauh apa pun sebuah karya sastra mengungkapkan fakta, ia tetaplah fiksi. Karena itulah, beberapa tahun silam, Seno Gumira Ajidarma sempat berpledoi: “Kalau pers dibungkam, sastra harus yang bicara!”. Dalam pengertian, ketika banyak fakta tidak bisa lagi diungkapkan oleh pers, maka sastra berpotensi mengambil alih “tugas” itu karena sifatnya sebagai fiksi yang secara logika dan hukum tak bisa digugat. Dan itu dibuktikannya lewat cerpen-cerpennya, terutama yang terhimpun dalam kumcer “Saksi Mata” (Bentang, 1994).
Tetapi Wilson Nadeak justru mengatakan bahwa The Da Vinci Code tidak bertolak dari kebenaran yang indah dan sebagai karya sastra yang historis tidak berhasil, kecuali sebagai sensasi yang spekulatif. Saya pikir pernyataan ini terlalu mengada-ada. Karena bagaimana dia berani “memaksa” kalau sebuah karya fiksi harus berangkat dari kebenaran? Tentu saja fiksi itu amat terbuka untuk spekulasi, menjadi sensasi atau tidak. Dan tentu saja sebagai asumsi sebuah karya fiksi, pengembangan teori Dan Brown boleh saja menyimpang dari tradisi dan tidak perlu dibuktikan melalui simbol-simbol yang dijungkirbalikan.
Belum lagi Wilson dengan mengutip ayat dalam Injil mengatakan bahwa orang yang menggunakan karya ini sebagai “bukti” kebenaran iman yang dianutnya adalah seperti orang yang mendirikan rumah di atas pasir, yang apabila badai bertiup akan segera runtuh. Saya pikir pembaca yang cerdas tidak akan menggunakan sebuah karya fiksi sebagai pondasi imannya. Lagipula, pada hakikatnya iman adalah sesuatu yang abstrak, ia berada di wilayah “dalam” yang sungguh personal dan selalu membutuhkan tafsir dan kontemplasi secara berkesinambungan. Iman Kristiani pun lebih kepada masalah hati nurani bukan fakta dan logika. Seperti kata Yesus kepada Santo Thomas yang tidak percaya pada kebangkitanNya sebelum melihat dengan mata kepala sendiri dan memasuk jari ke dalam lubang telapak tangan dan lambungNya:“Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya!”.
Maka alangkah naifnya sebagai seorang sastrawan, Wilson Nadeak begitu ngotot memberikan “pembelaan iman” atas sebuah karya fiksi, seperti halnya sekian puluh penulis buku sangkalan terhadap novel The Da Vinci Code yang latah itu—mereka yang takut kehilangan iman gara-gara sebuah novel fiksi. Betapa dashyat memang karya sastra!
Saya membayangkan Dan Brown sedang tertawa terbahak-bahak sambil menghitung royalti yang didapatnya dari novel The Da Vinci Code.***

* Cerpenis, studi Teologi dan Filsafat di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Catatan: Tulisan ini dikirim ke Kompas, tetapi tidak pernah dimuat. Kesimpulan penulis sampai saat ini, Kompas “tidak mau” memuatnya.

antologi komunal: The Regala 204 B


…Begitu pula dengan penulis lain dalam kumcer ini. Seperti Sunlie Thomas Alexander, ia dengan apik menceritakan kehidupan keluarga miskin dari sudut pandang anak perempuan yang ditinggal mati ayahnya. Dalam cerpen berjudul Dapur, Sunlie mampu menghadirkan kepahitan hidup sosok anak bernama Tie. Tie ditinggal pergi ayah dan ibunya. Ayahnya meninggal tertimbun tanah ketika sedang mencari nafkah dengan mengail sisa-sisa timah dari perusahaan tambang. Sementara ibu Tie meninggalkannya karena harus mencari uang untuk menyekolahkannya. Tie dan adiknya yang masih kecil hidup di antara para tetangga yang sering menggunjingkan pekerjaan ”nista” ibunya.

Cerita kaum terpinggirkan seperti Nela dan Tie inilah yang terangkum dalam kumcer The Regala 204 B. Seperti judul dalam catatan penerbit, ”Sastra Persembahan (untuk) Kaum Marjinal”, tampaknya kumcer ini berusaha mengangkat tema sastra marjinal.

Ahmad Munief, “Melawan dengan Sastra”
Tulisan ini dimuat di Majalah Berbahasa Indonesia di Hongkong


…Dari sekitar dua belas cerpen dalam antologi ini, yang paling representatif dalam mengangkat persoalan disparitas gender barangkali adalah cerpen “Dapur” karya cerpenis muda asal Bangka, Sunlie Thomas Alexander. Dapur merupakan sebuah ruang yang katakanlah nyaris menjadi sentra utama dari eksistensi kaum Hawa.

Secara dramatis dan narasi tutur yang khas dan lancar, Sunlie menggambarkan perjuangan kaum ibu di dapur, dan pada endingnya pembaca diajak paham bahwa peradaban “lelaki”, tradisi partriakal, tidak akan bisa hidup tanpa kontribusi besar kaum Hawa ini. Sebab itu, ini mengundang kita untuk sadar bahwa tradisi dan kebudayaan yang timpang, yang masih beredar di sekeliling kita perlu mendapat pelurusan yang terus-menerus entah dalam bentuk emansipasi, dedomestifikasi perempuan, dan lain sebagainya.

Ridwan Munawwar, “Resensi: Mutiara Kehidupan Kaum 'Ikan dalam Akuarium'”
Sumber: Lampung Post, Minggu, 15 Oktober 2006


TENTANG SASTRA MARJINAL
Catatan untuk Peluncuran Kumcer Orang Pinggiran “The Regala 204B”
Oleh: Sunlie Thomas Alexander

“Seperti Naipaul, saya menggunakan ironi pembelaan-diri dalam melukiskan luka pada tokoh-tokoh fiksi saya.” (Bharatii Mukherjee)

TERUS terang, saya sendiri merasa gagap merumuskan apa definisi yang paling tepat untuk istilah “Sastra Marjinal”. Karya sastra yang ditulis oleh kaum pinggiran atau karya sastra yang mengusung kehidupan mereka—para outsider itu dengan segala kompleksitas persoalannya. Wiji Thukul adalah seorang penyair yang boleh dikatakan berasal dari lingkungan pinggiran yang menyerukan dengan lantang permasalahan (baca: keterpinggiran) ‘puak’-nya, tetapi banyak sastrawan yang tidak berasal dari lokalitas marjinal juga menulis persoalan seputar dunia kaum marjinal ini. Rendra misalnya, yang notabene bukan berasal dari lingkungan ini, banyak menulis tentang kehidupan para pelacur, bromocorah, dan kaum urban. Atau Budi Darma dalam sejumlah cerpennya, terutama dalam kumpulan cerpen “Seribu Kunang-kunang di Manhattan”.
Sesungguhnya ruang lingkup kaum pinggiran ini cukup luas, dia bisa meliputi kaum buruh, petani, urban, minoritas etnis dan agama, juga kaum imigran dan hibrid. Namun agaknya ada semacam asumsi umum yang melekatkan kemiskinan ekonomi sebagai persoalan pokok dunia mereka—hal yang agaknya merupakan pengaruh dari pandangan dialektika Marxisme yang menganggap semua aspek kehidupan bertumpu pada dasar ekonomi.

Menjelajahi Sastra Kaum Marjinal
Secara kasar, sastra marjinal barangkali dapat disimpulkan sebagai karya sastra yang berusaha “menyuarakan” mereka yang “tak bersuara”. Barangkali semacam estetika pembelaan terhadap ketersisihan manusia. Dan ini meliputi sastra (tentang) kaum buruh, urban, petani miskin, komunitas minoritas (diaspora), kaum eksil, dan sastra perlawanan.
Konon seniman realisme sosial Georg Lukasc, dengan ekstrem pernah menyatakan bahwa karya sastra yang sejati haruslah merupakan representasi dan cermin bagi totalitas dan keutuhan sosial yang porak-poranda akibat pemberhalaan komoditas dalam kapitalisme. Seni yang tidak mencermikan totalitas kenyataan sosial, misalnya gerakan seni modern dan avant-garde adalah seni bobrok dan palsu, produk reifikasi kapitalisme. Pemikiran Lukasc inilah yang sering disebut sebagai seni bertendensi atau seni berpihak (tendenszhunsst), atau l’art engagee (seni berisi) dalam kritik seni. Dalam sastra bertendensi, pengarang sebagai juru bicara ‘kelompok’ sejak awal telah dibekali dengan suatu niat dan ideologi tertentu. Dan karya sastra sering hanya menjadi alat semata, yang pada akhirnya difungsikan sebagai sarana untuk menyampaikan maksud.
Paham realisme sosial ini kemudian mendapatkan serangan balik cukup keras dari kaum seniman modernis dan pengusung avant-gardisme, lantaran sastra (seni) realisme sosial dinilai lebih menitikberatkan perhatian terhadap intensitas tujuan sehingga aspek-aspek lain yang lebih penting seperti kualitas estetika dan perspektif secara keseluruhan menjadi terabaikan. Realisme sosial secara terang menegaskan karya haruslah mengabdi pada kelas tertindas. Pikiran dianggap merupakan proyeksi kolektivitas secara langsung dan teks bersifat pasif. Dengan demikian karya sastra merupakan semata-mata alat yang mengabdi kepada kelas tertentu. Para pengusung seni realisme pada umumnya berpandangan kalau seni merupakan salah satu cara untuk mengantisipasi degradasi moral dan sastra tidaklah semata-mata masalah bahasa tetapi juga masalah isi, cita-cita, dan pesan.
Hal ini kerap membuat mereka lupa kalau hubungan sastra dengan masyarakat dan interaksi suatu karya dengan kebudayaan tempat sastra itu tumbuh, sebenarnya tidak pernah tergantung dari niat dan maksud pengarang. Bahkan kalau pengarangnya—mengutip Ignas Kleden—dengan sadar berusaha menghindari hubungan itu, tetap saja hubungan itu akan tampil ke permukaan, karena kemunculan hubungan sesungguhnya tidak tergantung niat pengarang untuk menyatakan atau menyembunyikannya, melainkan dimungkinkan oleh sifat simbolik dari representasi karya sastra itu sendiri.
Meskipun harus diakui kalau pengaruh-pengaruh sosial sering merupakan sebab musabab yang menghasilkan suatu karya sebagai akibatnya dan syahdan, sastra adalah refleksi dari struktur sosial di mana sang pengarang hidup, tetapi sastra pada hakikatnya lebih bermakna tekstual daripada referensial, karena setiap teks memiliki semacam otonomi sendiri, otonomi semantik, yang sanggup membebaskan teks dari maksud pengarang dan rujukan-rujukan kepada dunia referensial.
Menurut Ignas Kleden, seni sejati yang otentik, seperti yang diusung oleh Pudjangga Baru dan Angkatan ’45 dalam Sastra (berbahasa) Indonesia, dengan sendirinya akan menyumbang kepada perkembangan kemanusiaan dalam bidang apa pun, karena dia dianggap menggarap persoalan-persoalan manusia justru pada eksistensi dan esensinya.
Pada tahun 1960-an di Indonesia, kita tahu Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) menolak tegas otonomi kesenian, baik karena secara historis dan sosiologis, kesenian dianggap tidak pernah otonom dari masyarakat di mana seni itu hidup dan berkembang, maupun secara politik kepentingan kesenian dianggap mempunyai kedudukan subordinat terhadap kepentingan sosial umumnya dan kepentingan politik khususnya (Ignas Kleden: 2004:384). Hal ini sesuai dengan tuntutan seni realisme sosial yang dihasilkan pada konfrensi ke-17 Partai Komunis Rusia, 4 Februari 1932. Di RRC, sejak 1978 juga diperkenalkan kebijakan Jiefang Sixiang (Pembebasaan Pikiran) yang kemudian ditegaskan dalam Kongres Nasional IV Sastrawan dan Seniman Cina, Oktober-November 1979, yang menganggap karya seni haruslah menyatakan kebenaran (Shuo Shihua) tentang kondisi sosial-politik, dan berbicara untuk rakyat (Wei Min Ging Ming) sebagai kewajiban luhur. Jauh sebelumnya, Baolu Wenxue (Seni Pembeberan) telah dikemukakan oleh Mao Tze Tung dalam Simposium Sastra dan Seni di Yan’an tahun 1942 untuk menunjukkaan karya sastra yang menggambarkan sisi gelap masyarakat, yaitu berbagai penyimpangan dan kekeliruan yang terjadi pada jamannya.
Sedangkan Mazhab Frankfurt dengan tokohnya Adorno atau Walter Benjamin, mengkritik baik “L’art Pour L’art” maupun realisme sosial. Menurut Mazhab Frankfurt, kesenian tidak layak menjadi semcam hasil reduksi sosial-politik terhadap estetik. Seni berhubungan dengan masyarakat bukan by design tetapi by nature. Persoalan bukan mencipta seni yang sesuai dengan keperluan masyarakat tetapi mencari akar permasalahan masyarakat yang tersembunyi dalam seni dan mengungkapkannya secara eksplisit.

Sastra Marjinal Kaum Diaspora
Kaum Komunitas Minoritas (Diaspora) menurut saya adalah kaum pinggiran yang sering terluputkan dalam banyak pembincangan tentang sastra marjinal yang lebih menitikberatkan perhatian pada kaum buruh-tani-urban dan sastra perlawanan. Padahal eksistensi mereka amat berpengaruh bagi dunia sastra global. Sekian banyak nama sastrawan peraih hadiah Nobel adalah berasal dari lingkup komunitas ini. Mereka umumnya memang merupakan sastrawan yang berkarya dalam Sastra (berbahasa) Inggris, tetapi di Indonesia pun sebenarnya kita mengenal yang disebut sebagai Sastra Peranakan Cina dengan istilah Sastra Melayu Rendah-nya yang kerap dipandang sebelah mata. Mereka sesungguhnya bukan hanya tersisih oleh persoalan ras, agama, etnis, atau bahasa, tetapi juga seringkali terpinggirkan dalam khazanah karya. Retorika Pascakolonial telah membuat mereka terpinggirkan dalam lingkup pergaulan sastra bahasa yang mereka tulis. Pun para sastrawan India yang menulis dalam bahasa Inggris meskipun mereka berdiam di India, banyak disebut sebagai generasi hibrid, sebagai orang luar, orang asing dan dianggap warga dari negara lain akibat proses kreatif dan bahasa yang mereka pilih sebagai medium kreatif.
Dalam khazanah pergaulan sastra dunia, tokoh-tokoh seperti Jorge Luis Borges, Bharati Mukherjee, Caryl Phillips, Derek Walcott, Maxine Hong Kingston, Vikram Seth, Amy Tan, Jhumpa Lahiri, V.S. Naipaul, Salman Rushdie, Ben Okri, dan Kazuo Ishiguro—sekedar menyebut sejumlah nama, adalah para sastrawan dari lingkungan pinggiran bekas jajahan (pascakolonial) yakni lingkungan yang jauh namun bereaksi secara aktif terhadap sastra kanonik Eropa dan Amerika. Mereka melawan hegemoni kulit putih dalam kancah Sastra (berbahasa) Inggris. Mereka–meminjam Nirwan Dewanto—berhasil menunjukkan bagaimana lingkungan pinggiran membuat mereka tak terbebani oleh sebuah tradisi besar (apalagi “nasionalisme” kesenian). Mereka menjelajahi pelbagai lingkungan tradisi demi mengubah Amerika Utara dalam kebudayaan kulit putih. Harian USA Today pernah memuji sikap kreatif kepengarangan Caryl Phillips misalnya, sebagai imigran yang mendapat tekanan sosial berat, tetapi mampu menegaskan kembali identitas dirinya, termasuk bagaimana ia melihat lingkungan masyarakat dan negeri tempat ia berada. Sebuah perjuangan keras melawan marjinalisasi.

Penutup
Tidak ada kesimpulan yang dapat saya kemukakan di sini. Seperti yang telah saya katakan di atas, saya secara pribadi masih merasa amat gagap bila mesti merumuskan apa definisi yang paling tepat bagi istilah Sastra Marjinal. Karya sastra yang ditulis oleh orang-orang pinggiran-kah? Atau karya sastra tentang orang-orang pinggiran? Ini masih sesuatu ambigu.
Tetapi di sini, saya mencoba untuk tidak berpihak, baik kepada kaum seniman modern yang lebih menekankan nilai-nilai individualisme, orisinalitas, kebebasan, dan penilaian rendah terhadap seni kitsch (massal), maupun mereka—kaum seniman realisme sosial yang menganggap seni sebagai sarana manusia untuk sadar diri, yang hanya dapat dicapai dengan pemikiran historis. Sebagai penutup, saya hanya ingin mengutip Derrida, bahwa: “Semua kejelasan dan pemahaman terhadap dunia adalah cerita atau discourse, dan bukan kebenaran. Kita tidak pernah sampai kepada kebenaran realitas, kita hanya dapat menjangkau ‘wacana’, apa yang dapat kita bincangkan tentang realitas.” (STA)

* Tulisan ini merupakan makalah yang disampaikan pada acara Talkshow “Sastra Marjinal”—Peluncuran Buku Kumpulan Cerpen “The Regala 204B” di IAIN Walisongo, Semarang, 5 September 2006.

Tuesday, September 11, 2007

sajak


PERI BINTANG
: iya

ke palung, ke palung
laut yang dalam

kau benamkan rindu
kanak kanak yang lugu

dan bintang kecil
seperti batu

berpijar di matamu;
ah, langit yang legam itu!


tetapi di sini, barangkali
aku buta sejak dini
memahami langit biru
yang terbayang dalam tangismu

atau hujan yang selalu tercipta

dari pesan pesanmu

air matamu membentuk celuk di batu:

batu mambang, batu siluman
di kampung tepi teluk

yang penuh seteru


ke palung, ke palung
laut yang keruh
kau larungkan lukamu

perempuan sayu


maka aku pun menyusun rindu

seperti menyusun batu batu
di dadaku, cakrawala abu abu

untuk rindumu,
bintang kecil di mata kanak kanakku
: sementara, iya, malam kian berdebu...


sungguh, bukan seperti jatuh dadu

kau beredar di rajah tanganku

serupa ibu, atau tanda waktu;
kenangan yang sendu!


: kita hanya bagai sauh
yang tenggelam jauh,

berdentang di karang terumbu


Jakarta-Belinyu, Juli 2007

Foto: Iya lagi senyum...

lanskap peziarah


SEPERTI AKU MEMILIH JALAN SUNYIKU
:Surat buat Sri Mulyati (Chi-Chi) yang kusayangi… #1

Yogyakarta, akhir Januari 2007
Assalamualaikum, Wr.Wb,
Chi-Chi yang baik, aku tulis surat ini dalam kondisi flu berat. Kepalaku berat sekali, seluruh tulang-belulangku ngilu serasa mau lepas, tapi kupaksakan juga menulisnya. Jadi maaf, kalau surat ini agak berantakan…
Bersama surat ini, aku kirimkan sebuah buku kecil buatmu, anggaplah sebagai kado ulang tahunmu yang kujanjikan itu. Mohon maaf agak terlambat. Aku mungkin tidak bisa memberimu yang lain, yang lebih berharga. Hanya buku kecil ini saja, yang aku tahu, tidaklah seberapa nilainya. Tetapi semoga saja bisa bermanfaat.
Aku tidak tahu apakah harus merasa sedih atau senang mendengarmu akan segera menikah (dan tentunya membuat kita kian berjarak). Tapi seperti yang kukatakan dalam SMS, aku berbahagia kalau kau berbahagia. Aku berdoa kepada Tuhan, semoga dia (lelaki itu) sungguh memang jodoh yang tepat buatmu—seorang suami yang baik, bertanggung jawab, dan mencintaimu. Juga mencintai keluargamu. Semoga pula kau mencintainya dengan tulus. Sehingga bersamanya, kau bisa membangun mahligai keluarga yang bahagia, keluarga yang sakinah di jalan Allah SWT.
Cinta bukan logika, apalagi matematika yang bisa dikalkulasikan, kau tahu itu. Ia adalah sesuatu yang murni, yang bakal hidup abadi dalam hati dan pikiran kita. Ia selalu menuntut tanggung jawab dan pengorbanan, ia membutuhkan konsekuensi.
Aku tahu, aku hanyalah seorang pejalan sunyi yang gugup, yang selalu saja grogi untuk belajar mencintai. Sebagaimana aku tahu, kalau aku ‘mungkin’ akan kehilanganmu. Tetapi seperti kata penyair Cecep Syamsul Hari: “Hanya seorang pecinta yang tak pernah bersedih, karena tahu ia akan ditinggalkan.” Aku tak luka, aku tak berdarah. Sudah lama aku tak berdarah, sejak seorang perempuan bernama Ummi Hasanah pergi meninggalkanku begitu saja…
Aku ingin mencintai seperti Rumi, seperti Rabi’ah al-Adawiyah, seperti Franz de Asisi, seperti Bunda Teresa. Cinta yang tanpa pamrih, tanpa tendensi, tak menuntut. Cinta yang pasrah. Bertahun-tahun aku belajar memahami dan menikmati prosesnya, sebagai laki-laki, sebagai manusia yang naïf dan lemah. Adakah aku mampu mengerti cinta semacam itu? Apakah aku memang mencintaimu, Chi? Entahlah. Tapi yang pasti, aku menyayangimu. Sejak SMS-SMS kita, pertemuan dan hubungan kita yang aneh… Tapi inilah hidup. Nasib adalah mata dadu, di mana kita hanya bisa memainkannya bersama Tuhan. Selepas itu, takdirlah yang berbicara. Hanya Dia, Yang Maha Gaib, Sang Misterilah yang memilikinya secara mutlak!
Ada manusia yang ditakdirkan untuk selalu mencintai, ada manusia yang ditakdirkan untuk selalu terluka, ada manusia yang ditakdirkan untuk selalu kehilangan, ada manusia yang ditakdirkan untuk selalu berjiwa besar. Tapi aku bukan salah seorang pun di antara mereka. Aku sudah terlanjur memilih jalan sunyi; hidup yang mencemaskan (Barangkali seperti seorang prajurit crusaders bodoh yang pergi ke Yerusalem untuk menunaikan perang suci, berperang untuk sesuatu yang entah). Sebuah konsekuensi yang mungkin tak akan pernah kau pahami dan kau maklumi.
Kadangkala, aku merasa memanggul salib sendirian melewati jalan kalvari. Sudah hampir tiga tahun aku memutuskan menjadi Muslim (sebuah kepasrahan yang lain namun tetap saja sama maknanya), tapi salib itu masih saja terasa menjadi beban di bahuku. Barangkali salib itu sudah takdirku untuk memikulnya sampai ke bukit tengkorak sebagai lambang kekalahan manusia… Kurasa ini bukanlah soal iman atau akidah, sejak semula Isa al-Masih (terlepas dari doktrin agama apa pun) adalah manifestasi cinta yang menderita. Setiapkali aku mencintai, aku menderita. Jalan salib bagiku mungkin semacam kutukan. Tentu saja aku bukan Franz de Asisi, bukan para martil yang dibaptis dengan darah, bukan Rumi atau Rabi’ah al-Adawiyah. Bukan para syuhada yang memiliki cinta surgawi. Cintaku hanya cinta profan yang teramat biasa. Subhanallah!
Begitulah Chi-Chi, ini sekedar tanda mata dariku. Barangkali kau mau membaca dan menyimpannya, cukuplah. Itu sudah membuatku bahagia. Pilihlah yang terbaik bagi dirimu, bagi keluarga dan masa depanmu. Seperti aku memilih jalan sunyiku, jalan kalvariku. Allah SWT beserta kita, sholawat dan puji kepada Nabi Muhammad SAW utusannya yang mulia, yang telah memetakan jalan keselamatan bagi sekalian alam. Jangan lupakan aku, sesekali berdoalah untukku. Aku akan selalu mendoakanmu…

biarlah aku terus terunta,
di jalan jalan asing berdebu
sendirian meraba arah hidupku
menghadapi pahit nyeri luka-luka
sebab langkah yang telah ditempuh,

tak bisa ditawar dengan keluh!
(Toto ST Radik)

Wassalam,
Sunlie Thomas Alexander

Catatan: Surat ini beserta sebuah buku tentang pedoman membangun keluarga sakinah yang aku lupa judulnya, dikirimkan via Pos Kilat Khusus dari Kopma UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, awal Februari 2007.
Foto: Taman Phak Kak Liang di kampungku Belinyu, Bangka Utara.

Monday, September 10, 2007

cerpen 2



RI...
Cerpen: Sunlie Thomas Alexander

TUBUHMU yang coklat matang, sungguh kemilau bagi mataku. Kubayangkan warna tanah begitu gembur yang dipakai Tuhan untuk menjadikan manusia. Tanah di mana segala tanaman akan tumbuh hijau subur hingga berbunga, lalu berbuah tak terkira segarnya dan berlimpah ruah. Dan aku ingin sekali mengabadikannya ke dalam kanvas. Kau tahu, sudah lama aku tidak melukis sejak memutuskan berhenti kuliah dari perguruan tinggi seni itu dan memilih belajar Teologi.
Tapi di kamar ini tak ada kanvas ataupun cat dan kuas, Ri. Sehingga tentu saja aku tak dapat melukis tubuh telanjangmu yang berkilau indah oleh keringat di bawah lampu sepuluh watt. Keringat yang wangi, yang selalu membuatku kembali bergairah. Lalu dengan penuh nafsu akan menelentangkan lagi tubuhmu di atas kasur bagai tubuh Kristus yang tersalib pada Jum’at suci. Percayalah padaku, kita bercinta, maka kita ada!
Tapi kadangkala kau terlalu naif. Kau selalu saja mencemaskan Tuhan yang akan marah melihat cara kita bercinta. Tentu, sia-sia saja kuceritakan padamu bagaimana orang-orang Pagan selalu merasa menemukan bayang-bayang Tuhan dalam percintaan. Dalam waktu sesekian detik ketika orgasme. Mendengarnya, kau sedikit merajuk. Tetapi justru itu membuatku semakin bergairah untuk mengumulimu. Hingga sepasang matamu yang sayu mendelik, hingga nafasmu tersengal-sengal hampir habis, dan kau mengerang persis Kristus saat lembing menghunjam lambungNya dalam imajinasiku. Setelah itu, setelah menit-menit yang tegang berlalu, kita hanya telentang menatap langit-langit kamarku yang muram. Lalu aku akan bangkit dan duduk termangu di sampingmu, kadang-kadang menyalakan sebatang rokok dengan malas-malasan. Angin malam yang masuk dari jendela kamarku yang terbuka lebar terasa menyegarkan. Tak lama kemudian kau ikut-ikutan bangkit dan menyandarkan kepalamu dengan manja ke bahuku. Tetapi seringkali dengan usil kau meraih pakaianku yang tergeletak di lantai dan memakainya untuk mengelap keringat atau sisa air liurku di tubuhmu, bahkan mengeluarkan ingusmu. Terang, membuatku melotot kesal. Toh, kau hanya tertawa atau menjulurkan lidahmu panjang-panjang.
Kau hadir begitu saja dalam hari-hari liburku di kampung halaman yang mulanya begitu membosankan. Suatu sore, tiba-tiba kau muncul tak terduga ke rumahku setelah sekian lamanya kita tidak pernah bertemu. Tentu, aku menyambutmu dengan riang dan bersahabat. Apalagi kau semakin manis. Mungkin kita tak punya banyak kenangan yang berarti, yang dapat kita ungkit-ungkit untuk menghidupkan pertemuan, menghangatkan kembali keakraban atau sekedar berbasa-basi. Tapi aku seolah-olah dapat menangkap rasa gelisah yang terpancar pada sepasang matamu yang sayu. Bayangan gelisah yang awalnya membuatku sedikit cemas. Aku mengajakmu duduk di balkon dan menawarimu secangkir teh hangat. Untuk beberapa menit pertama, kita hanya diam memperhatikan jalanan kota kecil di sore hari yang lengang, deretan ruko-ruko yang telah tutup. Mungkin kita sama-sama agak sungkan, barangkali bingung mesti memulai dari mana.
Ah, bukankah selama ini, selama setahun terakhir ini, kita lebih banyak berhubungan lewat pesan-pesan SMS yang serba singkat, meskipun kadangkala kita sedikit nakal saling menggoda. Jarak dan waktu bukanlah sesuatu yang menyenangkan sejak aku pertama kali mengenalmu dalam resepsi pernikahan sepupumu itu.
Dulu, barangkali aku pernah mengejarmu. Sebelum aku pergi, kembali ke kota rantau untuk menyelesaikan kuliah yang lama terbengkalai, yang entah sampai kapan baru akan selesai. Dan waktu itu, kau seperti jinak-jinak merpati, sebelum kemudian menghilang. Sengaja menghilang dengan mengganti nomor ponselmu, setelah aku meneleponmu dengan grogi pada malam keberangkatanku. Tentu, aku tidak tahu apa alasanmu tiba-tiba memutuskan untuk menjauhiku. Mungkin saja karena kau tahu aku menyukaimu, dan cuma ingin menggodaku dengan berpura-pura meladeniku. Namun ketika aku mulai ingin mengenalmu lebih serius, kau serta merta lenyap!
Tetapi mungkin Tuhan memang telah menakdirkan kita bercinta, Sayang... Suatu malam tiba-tiba kau menyapaku lagi lewat sebuah pesan SMS yang sarat keraguan. Aku mendadak rindu padamu! Katamu. Sebetulnya aku ingin mengacuhkanmu karena jengkel. Tapi entah kenapa, akhirnya kubalas juga pesanmu dengan setengah hati.
***
AH, barangkali kau tak pernah menduga aku akan berani mencium bibirmu! Sebagaimana aku sendiri tak pernah menyangkanya. Ketika sadar, aku hanya tahu kau telah berada di pelukanku. Dan kau tak menolaknya. Kau hanya menatapku dengan sayu, dengan nafas sedikit tersengal-sengal. Maka aku pun kembali menciummu, melumat bibirmu dengan sedikit gemetar. Sampai kau membalasnya, membalasnya dengan bergelora. Sampai kita kehabisan nafas. Dan aku begitu senang melihat mulutmu yang terbuka-mengatup, megap-megap kekurangan oksigen, seperti seekor ikan yang terdampar di tepi pantai ketika laut surut.
Kau memang selalu datang berulang, Ri. Kita bercinta layaknya orang kelaparan. Nyaris setiap sore, kadang siang atau malam. Membuat kamarku yang berantakan semakin porak-poranda. Entahlah, kita seolah tak pernah bisa menahan godaan untuk bercumbu...
Sebagai mahasiswi Akademi Perawat, tentunya kau banyak mempelajari tubuh manusia. Misalnya, belajar bagaimana memberi rangsangan pada papila mamae1 atau umbilikus2 seorang ibu yang hendak melahirkan untuk memperlancar persalinannya dalam mata kuliah Maternitas3. Juga ketika harus memasang selang alat bantu kencing pada seorang pasien lelaki yang mengidap Renal Calculi4 kronis. Dengan piawai, kau selalu mampu membangkitkan hasrat bercintaku hingga meluap. Bahkan membuatku merasa bodoh, ketika kau, sambil tertawa, membisikiku bagian-bagian mana saja dari tubuhmu yang bila disentuh akan membuatmu terangsang hebat.
Bercinta denganmu, Ri, membuatku merasa seolah menempuh pelayaran separoh dunia, tapi dengan kegirangan seorang Columbus menemukan daratan baru. Atau menyelesaikan beratus-ratus halaman sebuah novel masterpiece dalam waktu semalam. Begitu melelahkan, tapi dengan gairah yang tak kunjung padam.
Ah, bagaimana kalau kau hamil? Kau hanya tertawa lebar seolah itu pertanyaan terbodoh yang pernah kulontarkan.
***
TUBUHMU yang coklat matang, Ri, sungguh kemilau bagi mataku. Tentu, tentunya begitu sempurna bagiku, apalagi sekadar dibandingkan dengan tubuh seorang Asia Carrera, bintang porno cerdas yang dulu membuatku keranjingan mencari film-filmnya. Atau cuma seorang Tiara Lestari, gadis Solo bertubuh eksotik yang tampil bugil di majalah Playboy Spanyol itu. Percayalah, bercinta denganmu, takkan bisa ditandingi oleh seorang Carrera atau Tiara, Ri!
Tak juga kemilau tubuh yang sama coklat matang milik Dyah Fatmawati atau Putu Eka Kusuma Ekayanti, dua gadis Bali yang dijepret Petter Hegre, fotografer erotis pemenang London Erotic Oscars itu. Maaf, Ri, bila kubayangkan betapa indahnya tubuhmu yang telanjang terpajang di situs ‘hegre-art.com’ yang punya motto “Excellence in Nude” dan “Rank 1 Nude Site in World” punya Petter... Kubayangkan, Ri, seluruh dunia yang tercengang demi melihat eloknya tubuhmu. Tubuh kekasihku!
Kau tertawa, memamerkan gigi-gigimu yang putih bersih dan memukul kepalaku dengan bantal. Lalu menerjangku dengan sebuah hasrat yang meletup seperti minyak panas di wajan. Aroma dan kilau keringat di tubuhmu, selalu dengan begitu cepat membangkitkan kembali gairahku. Tapi kadangkala kau terlalu liar, terkadang akulah mungkin yang terlampau kasar. Kau memekik ketika aku memangsa lehermu seperti seorang Vampir, dan balas mencakar bahuku bagai puteri kucing hitam Elvira. Kita saling menggigit dengan lebih gaduh. Percintaan ini terlampau menghanyutkan, Ri. Maka lupakanlah kecemasanmu akan kemarahan Tuhan atau dosa yang pahit. Lupakan pula cerita-cerita seronok semisal stensilan Enny Arrow yang pernah kau baca atau sebuah film porno yang membuatmu terjaga semalaman. Amsallah percumbuan kita sebagai sebuah litani. Barangkali memang tak perlu sebuah akad nikah yang penuh takzim atau sakramen perkawinan yang khidmat bagi kita untuk bercinta. Ah, betapa manisnya senyummu yang malu-malu itu! Kau jatuhkan tubuhmu yang basah kuyup bersimbah peluh dalam pelukanku dan mengeluh kecil.
Kemudian, kamar ini menjadi begitu senyap sesudah kau pergi. Aku hanya termangu di depan cermin menatap bayangan sekujur tubuh kurusku yang penuh luka bekas gigi dan kukumu. Tapi entahlah, Ri, selalu saja aku mengamsalnya serupa luka stigmata di tubuh para kudus seperti Santo Fransiskus Asisi atau Yohannes dari Salib. Dengan gementar, kuraba goresan memanjang di lambungku. Kupandangi sekeliling kamarku yang semakin berantakan dengan gamang, sedikit takjub ketika melihat seprei yang lembab dan acak-acakan dengan sisa aroma keringatmu yang tertinggal. Tetapi kemudian dalam bayanganku, dalam bayanganku, Ri, samar-samar tampak sisa pembantaian di puncak Kalvari! Seluruh tubuhku rasanya demikian lunglai...
***
TAPI kita semakin lapar dalam bercinta, Ri. Bahkan di pelataran Goa Maria, di depan patung sang perawan suci yang dikandung tak bernoda, larut malam saat tak ada lagi peziarah yang datang berdoa...
Entah sejak kapan, kita pun mulai sungguh-sungguh mengandaikan diri kita sebagai pasangan Vampir dan Elvira, hidup abadi untuk bercinta. Meskipun kau tahu, di langit Belinyu tak ada ribuan kelelawar yang akan menghitamkan pandang dan menciutkan nyali, kecuali walet-walet yang keluar dari gedung-gedung pucat kusam ketika senja. Selain kucing-kucing belang liar yang berkeliaran di lorong-lorong kota yang pengap, sudut-sudut toko yang pesing dan gorong-gorong pasar berbau anyir, atau kucing rumahan manis berbulu totol yang selalu mengeong manja minta ikan asin padamu, tak ada kucing-kucing berbulu hitam pekat yang telah menjadi pembawa kunci alam kegelapan dari abad ke abad.
Tubuhmu yang coklat matang, kian mempesona bagiku, Ri! Betapa aku menikmati setiap detik bercinta denganmu. Menikmati aroma keringatmu yang wangi, bibirmu yang ranum dan selalu kenyal, setiap desahan dan eranganmu mencapai puncak gairah, atau bagaimana sepasang matamu mendelik sebelum kita kembali terhempas kelelahan.
Namun, kenapa masih saja kau cemaskan murka Tuhan melihat cara kita bercinta, Sayang? Sebagaimana kau cemaskan hubungan kita mulai terendus oleh kakak lelakimu yang pemberang dan barangkali tak pernah mengikhlaskan kau bercinta dengan lelaki mana pun di muka bumi. Tentu, aku selalu menghiburmu dan menyakinkanmu bahwa kita akan baik-baik saja. Dan aku akan melamarmu pada suatu ketika entah kapan, sehingga kita tak perlu lagi bercinta sembunyi-sembunyi. Kita dengan bahagia dan mesra bisa melenggang bebas di bawah terang matahari, sambil bergandengan tangan ataupun berpelukan tanpa harus takut tubuh kita hangus terpanggang.
Aku terus mencoba menyakinkanmu, sebagaimana dengan gundah aku mencoba menyakinkan diriku sendiri, kalau sesungguhnya tak ada bayang-bayang nyeri tubuh Kristus yang tersalib—patah dan mengucur darah untuk menebus dosa manusia—di atas seprei yang kusut dan lembab, di tembok kamar, di balik batu-batu pantai, atau di mana pun setiap kali kita sedang bercinta atau selesai bercinta.
Tapi entahlah, entahlah, malam ini aku seolah-olah melihat tubuh telanjangmu yang coklat matang memukau itu tersalib penuh luka seperti Kristus! Begitu angun sekaligus menggidikkan. Aku gemetaran, dan darah segar terus bercucuran dari luka di lambungmu... Kau menangis tersedu-sedu.
Sampai kemudian aku mulai merasa marah. Mungkin lantaran mulai berputus asa. Aku merasa seluruh tubuhku kejang karena kemarahan aneh yang tiba-tiba meluap ini. Begitu sulit ditanggung, layaknya kemarahan seorang Count Dracula, bangsawan Transylvania itu, ketika suatu hari pulang dari Perang Salib dan menemukan tubuh isteri tercintanya telah tergantung mengenaskan: bunuh diri!
Ah, bercinta denganmu, Ri, seperti mendaki jalan-jalan terjal bukit Kalvari. Aku mendesis ketika kau tanamkan kuku-kuku tanganmu yang tajam ke dalam daging punggungku!***

Gaten, Jogjakarta, September 2007


Catatan:
1. Puting susu
2. Pusar
3. Kebidanan
4. Bahasa awam: Kencing Batu