Saturday, August 30, 2008
sajak
HOMESICK
sekali waktu kau harus menanggung rindu
pada rumah: gurau di teras
atau aroma dapur yang pengap
tapi kepulangan,
kadangkala seperti sebuah kutuk
pada kamar senyap
dengan rasa sedih meluap
maka kembaramu pun
berhasrat kekal
seperti mimpi berkarat:
sesuatu yang tertinggal begitu kerap
di mana masa lalu sempurna jadi lanskap
siapa yang terus memanggil manggil
di antara harap cemas?
sementara kenangan
memang senantiasa tergagap,
sekaligus berlalu begitu cepat
seperti melulur cemas
ketika rumah rumah menjelma sekam
bagi setiap anak yang pergi
dengan pintu pintu hati rapat terkunci
ah, karena itu kau pun mengulum serapah
yang terlipat lipat di dada ibu,
di dada rindu dengan hasrat batu
menolak kepulangan sebagai ziarah,
selain melulu rasa ragu,
rasa ragu...
: waktu, alangkah gagu!
Yogyakarta, 2008
Sunlie Thomas Alexander
NUJUMAN
: hudan nur
di rongga dadamu,
nujum jatuhkan namaku
seperti bintang jatuh,
katamu dalam sebuah pesan
mencemaskan
dan malam yang turun di luar jendela kamarku
tiba tiba begitu ganjil
ah, kau masih saja membaca gurat waktu
di wajahku
mencari namamu yang bertabur
di langit bagai bintang, bagai kenangan sepi
tapi aku hanya mencoba
pahami nyeri di tubuhmu
yang lebih perih dari rindu
setiapkali kau menzikirkan namaku
kenapa malam ini, kau menujumku lagi
dalam sesak dadamu;
serupa lemparan dadu?
bila saja kau tahu,
udara di luar jendela
lebih berat dari hatiku, perempuan batu
Belinyu, Agustus 2008
Sunlie Thomas Alexander
DI LOS PASAR BELINYU
kenangan seperti aroma ikan asin;
masa kecil yang mengendap di lapak ingatan
tetapi kau tahu,
jejak yang banal, ngungun ruang perlahan
akan menghilang ke arah kefanaan
hingga di lorong lorong anyir ini,
nanti tak ada yang tertinggal samar
hingga kota kelahiran pun menjelma
jadi negeri asing bagi kepulangan
dan kau sertamerta menggerutu
pada los los toko, reklame dan jarum jam
ketika dentang waktu
berangkat pada kesunyian
serupa puisi yang kian sepi
dari gebalau pasar;
tempat orang orang bertukar,
mungkin, berjual beli ingatan
bagai aroma ikan asin di batas lapar
Belinyu, Agustus 2007
Saturday, July 12, 2008
Temu Sastrawan Indonesia I Jambi
Kabar dari Temu Sastrawan Indonesia I
di Jambi, 7 - 11 Juli 2008
TSI II di Bangka Belitung, TSI III di Sumsel
>>Forum Musyawarah Sastrawan Bentuk Aliansi Sastra Indonesia (ASI)
TELANAIPURA - Dari ruang musyawarah sastrawan Indonesia yang digelar dalam rangkaian acara TSI 9 Juli lalu, forum musyawarah merumuskan beberapa hal yang dianggap perlu. Untuk menjaga kontiniunitas Temu Sastrawan Indonesia I, dipandang perlu menetapkan Tuan Rumah untuk pelaksanaan perhelatan serupa berikutnya.
Berdasarkan usulan Sunlie Thomas Alexander, sastrawan yang mewakili provinsi Bangka-Belitung dan Anwar Putra Bayu, mewakili provinsi Sumatera Selatan, maka pelaksanaan Temu Sastrawan Indonesia II dilaksanakan di provinsi Bangka-Belitung tahun 2009 dan pelaksanaan Temu Sastrawan Indonesia III di provinsi Sumatera Selatan tahun 2010. Mengenai tempat, waktu dan teknis pelaksanaan ditentukan sepenuhnya oleh tuan rumah.
Mengenai peningkatan kuantitas dan mutu Temu Sastrawan Indonesia pada pelaksanaan berikutnya, forum memandang perlu penggunaan kurator untuk mengkurasi hal-hal yang berhubungan dengan pelaksanaan acara baik dari sisi tema, konsep pertunjukan, dan hal-hal lain yang relevan.
Mengingat perkembangan sastra Indonesia saat ini dan problema yang melingkupinya, forum musyawarah sastrawan membentuk Aliansi Sastra Indonesia (ASI) yang memfokuskan aktifitas pada advokasi sastra. (mg2).
Sumber: Posmetro Jambi, Jumat 11 Juli 2008, halaman 12.
Monday, June 2, 2008
Ganyang FPI Laknatullah!
Friday, April 18, 2008
esai
MENCARI ISLAM KONTEKSTUAL
(Sebuah Catatan Kecil)
Sunlie Thomas Alexander*
LUMEN GENTIUM, 16 (Konsili Vatikan II): Yesus tinggal di antara mereka yang datang kepadaNya tanpa mengenalnya; di antara mereka, yang setelah semula mengenalNya, telah kehilangan Dia bukan karena kesalahan mereka sendiri; di antara mereka yang mencariNya dengan ketulusan hati, walaupun berasal dari konteks budaya dan agama yang berbeda”.
SAYA pertama kali mendengar nama Ahmad Wahib saat masih duduk di bangku SMP. Ia hadir samar-samar sebagai seorang tokoh muda Islam yang nyeleneh dan konon simpati pada orang Katolik. Hingga suatu hari saya membaca sebuah esai kecil—tentu saja saya tak ingat lagi tulisan siapa—di Mingguan HIDUP, sebuah majalah intern umat Katolik yang diterbitkan oleh Keuskupan Agung Jakarta. Kebetulan di rumah, sejak saya masih SD, kakek saya memang berlangganan majalah tersebut. Dari esai kecil itulah, saya sedikit mengenal lebih jauh sosok Wahib: biografinya yang terkesan agak heroik dengan kematian yang tragis di usia muda, pemikirannya yang meresahkan sekian banyak orang Islam, dan tentu saja buku hariannya yang menghebohkan itu, ”Pergolakan Pemikiran Islam” (LP3ES, 1981).
Mungkin warisan darah pemberontak dari seorang ayah yang memutuskan menjadi agnostis, ditambah kondisi usia labil yang sedang berada dalam proses pencarian, saya dengan segera tertarik pada tokoh kontroversial ini. Bagi saya remaja, ia—sebagaimana sejumlah tokoh yang saya gandrungi saat itu (Chairil Anwar, Bruce Lee, dan Muhammad Ali)—sungguh berpotensi menjadi seorang figur yang penuh inspiratif. Meskipun sejalan dengan waktu, pengaruhnya terhadap saya tidaklah sebesar tokoh-tokoh yang lain.
Spirit Konsili Vatikan II
Saya tidak tahu, sejauh mana pengaruh semangat Konsili Vatikan II terhadap pemikiran-pemikiran Ahmad Wahib. Perlu kajian lebih lanjut untuk hal ini. Tetapi saya pikir, sedikit-banyaknya ’pandangan yang dirumuskan oleh Gereja Katolik Roma atas posisi Gereja (dan iman Katolik) di tengah kemajemukan umat beragama lainnya di dunia’ tersebut, cukup menjadi inspirasi bagi beberapa pemikiran Wahib. Paling tidak, seperti pengakuan aktivis HMI ini dalam buku hariannya ”Pergolakan Pemikiran Islam”, bertanggal 6 Oktober 1969: ”…Memang aku dahaga. Dahaga akan segala pengaruh. Karena itu kubuka bajuku, kusajikan tubuhku yang telanjang agar setiap bagian dari tubuhku berkesempatan memandang alam luas dan memperoleh bombardemen dari segala penjuru. Permainan yang tak akan pernah selesai ini sangat mengasyikkan”.
Spirit Konsili Vatikan II yang kemudian menjadi sikap resmi Gereja Katolik Roma dalam membangun hubungannya dengan agama-agama lain, termasuk mengembangkan dialog antariman ini, di antaranya barangkali cukup terlihat pada pemikiran Wahib tentang sekularisasi dan pluralisme agama.
Konsili yang dilaksanakan pada tahun 1969 itu sendiri merupakan sebuah sikap yang lahir ketika Gereja Roma menemukan kondisi sosial-budaya dan politik dunia pasca-kolonial yang telah jauh berbeda; di mana persinggungan umat manusia dari latarbelakang kebudayaan dan agama yang beragam telah berlangsung begitu intens dan kompleks seiring dengan perkembangan zaman, ditambah lagi kenyataan bahwa Barat tak lagi merupakan sentral perkembangan iman Katolik tetapi Gereja justru berkembang denga pesat di Dunia Ketiga.
Maka dalam sejarah pun, akhirnya kita menemukan kekristenan yang secara berangsur-angsur berubah menjadi sebuah agama yang sarat dengan keterbukaan dari sebuah agama yang memiliki tradisi panjang intoleran dengan tendensi yang jelas pada totalitarianisme; sementara di sisi lain Islam sebagai sebuah agama dengan watak keterbukaan justru perlahan terdorong menuju praktek-praktek yang intoleran dan totaliter, bagai dijangkiti sebuah penyakit konservatif yang akut.
Dan inilah salah satu hal yang menggelisahkan seorang Ahmad Wahib. Sebagaimana ia sempat mencatat bahwa, ”Dalam gereja mereka, Tuhan adalah pengasih dan sumber segala kasih. Sedang di masjid atau langgar-langgar, dalam ucapan dai-dai kita, Tuhan tidak lebih mulia dari hantu yang menakutkan dengan neraka di tangan kanannya dan pecut di tangan kirinya”. Tuhan yang menyapa manusia dengan hukum, bukan dengan cinta kasih.
Tentu saja kita harus memaklumi potret suram dunia Islam di zaman ini, ketika fanatisme kian tumbuh subur dan merebak di berbagai belahan bumi. Di mana, di tanah air misalnya, kelompok-kelompok fundamentalis-literel bermunculan sebagai wajah galak yang lahir akibat konsekuensi dari sebuah komunitas yang merasa termarjinalkan (oleh hegemoni Barat) dalam berbagai aspek kehidupan sosial-budaya-politik global, dan karenanya cemas menerima titik balik peradaban: mereka yang gembar-gembor meneriakkan formalisasi syariat Islam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Bagi saya, di sini ada kemiripan antara sosok Ahmad Wahib dengan Ingmar Bergman, yaitu seseorang yang memahami ”Tuhan sebagai beban”. Seseorang yang dalam hidupnya di mana Yang Maha Kuasa diwakili sosok angker sang ayah yang keras, yang kerapkali mengurung Ingmar kecil di ruang gelap.
Maka, kita pun menyaksikan pergulatan yang tidak mudah itu dalam film karya sutradara terkenal putra seorang pendeta Lutheran Swedia ini, ”Fanny och Alexander” (1983). Di mana Tuhan yang hadir di sana boleh dikatakan ibarat tiran, dan kemudian menjelma menjadi kesangsian sebagaimana yang divisualisasikannya lewat filmnya yang lain: Der Sjunde Inseglet (versi Inggris, The Seventh Seal, 1957): sebuah film yang bercerita tentang seorang ksatria bernama Antonius Block, yang pulang dari Perang Salib ke negerinya yang sedang diserang wabah dalam keadaan letih, murung, iman terguncang-guncang dan merasa dibayang-bayangi Sang Maut yang serupa topeng putih.
Block pun berada di ambang murtad; ketika tak ada ”pengetahuan” yang dapat menjamin adanya Tuhan sebenarnya dan menanggungkan Tuhan sebagai obsesi. Karena itulah, di depan seorang perempuan yang dihukum bakar karena dituduh sebagai penyihir penyebar sampar, Block hanya tertarik pada persoalan adakah pada saat kematiannya wanita itu melihat Tuhan. Sang ksatria bergeming membawa air untuk si terhukum. Justru Jöns—pembantu setianya yang mengiringinya dari Yerusalem—yang tak beriman, yang punya belas kasihan.
Kisah di atas mungkin tidak berarti banyak bagi kita yang menerima warisan agama begitu saja lantaran terlahir dari sebuah keluarga ”adem-ayam”, tempat agama (dan iman) menjadi sesuatu yang begitu mapan di hati dan pikiran. Tanpa gemuruh ombak.
Tetapi toh, hal ini tidaklah berlaku bagi seorang Wahib, yang dalam masa hidupnya yang singkat dipenuhi dengan beragam kegelisahan atas "persoalan-persoalan pinggiran" yang—oleh sebagian umat Islam—dianggap telah selesai dan tidak layak diwacanakan kembali itu. Begitulah setidaknya dapat kita baca dalam catatan permenungannya yang dijemput nyala api pro-kontra cukup sengit tersebut. Di mana persoalan-persoalan yang diolah Wahib mendaraskan pemikiran-pemikirannya dan (bisa dikatakan) memposisikan dirinya sebagai—meminjam Greg Barton misalnya: "an almost desperate seeker of truth”.
Bagi Bergman, memang tidak mudah melepaskan “beban”-nya tersebut, ia harus meruntuhkan “superstruktur keagamaannya yang berat ke atas” untuk menemukan kelegaan. Sedangkan Wahib dalam pergumulannya, kita tahu, memilih mengambil sikap "berkelahi dengan-Nya", sebagaimana kisah Yakub dalam Kitab Kejadian; di mana pada akhirnya pergumulan tersebut tak lain semata-mata untuk memperteguh keimanannya kepada Tuhan. Bukan sebuah serangan membabi buta atas iman.
Atau dalam kata-kata Wahib sendiri dalam tulisan bertanggal 6 Maret 1970: "gerakan pembaruan adalah suatu gerakan yang selalu dalam keadaan gelisah, tidak puas, senantiasa mencari dan bertanya tentang yang lebih benar dari yang sudah benar, yang lebih baik dari yang sudah baik... Peninjauan kembali terus-menerus pada pikiran-pikiran yang sudah ada karenanya merupakan suatu keharusan".
Dalam hal ini, apa yang ditekankan Wahib barangkali bisa dikatakan sebagai ajakan kepada para pembaru Islam saat itu untuk menjadi apa yang pernah dibahasakan Julia Kristeva sebagai "subyek-dalam-proses". Atau meminjam penyair-esais Goenawan Mohamad, "bukan saja dalam arti subjek yang belum rampung, tetapi juga subjek yang berada dalam keadaan diadili".
Karena itu, ”Pergolakan Pemikiran Islam”, barangkali adalah teks terbuka yang menuntut penafsiran dalam rangkaian ulang tafsir terus-menerus. Yang menuntut kita untuk mencoba menyemarakkannya kembali dengan menambal sulam retakan-retakan gugusan gagasannya yang masih dalam proses itu. Merayakan seruannya tanpa henti melalui—apa yang disebut Mikhail Bakhtin—"praksis eksotopi".
Sebuah proses pencarian Islam
Sekali lagi, saya tidak tahu sejauh mana pengaruh semangat Konsili Vatikan II atas pemikiran-pemikiran Ahmad Wahib yang oleh golongon konservatif-literel dianggap telah ”keluar dari Islam” itu. Yang jelas, seperti yang kita tahu dari buku hariannya, selama di Yogyakarta misalnya, ia tinggal di asrama mahasiswa calon pastor (frater) Realino, bergaul akrab dengan orang-orang Katolik, bahkan memiliki dua orang ”bapa angkat” yang pastor, yaitu Romo H.J. Stolk, SJ dan Romo Willem.
Karena itu, tidak mengherankan bila dalam buku hariannya misalnya, ia menulis: ”Aku tidak tahu, apakah Tuhan sampai hati memasukkan dua orang bapakku itu ke dalam api neraka”.
Tentu saja kita mafhum, ini sebuah pandangan Teologi Inklusif yang kemudian dikembangkan oleh Nurcholish Madjid—seorang pembaru Islam lain di Indonesia yang notabene dikenal dekat dengan Wahib—sebagai sebuah pemikiran teologi yang bangunan epistemologisnya diawali dengan tafsiran al Islam sebagai sikap pasrah ke hadirat Tuhan yang menjadi karakteristik pokok semua agama yang benar, sebuah world view al Quran bahwa semua agama yang benar adalah al Islam, yakni sikap berpasrah diri ke hadirat Tuhan. Tuhan yang transenden, yang mengatasi ruang dan waktu, kekuasan dan pemahaman manusia. Bukan Tuhan yang ingin direduksi dalam pemahaman formal-literel, di mana ia diberlakukan bak berhala. Dan karena itu menentang esensi doa, sebab—mengutip Goenawan Mohamad dalam sebuah ”Catatan Pinggir”-nya di majalah TEMPO—”dalam doa, kita tahu kita hanya debu”.
Ini adalah sebuah sikap yang juga menjadi landasan pemikiran Konsili Vatikan II; setelah dunia Kristen mencoba belajar dari sejarah gelapnya sendiri yang panjang dan berlumuran darah: praktek Inquisisi, perang Katolik-Protestan, Perang Salib, permusuhan terhadap filsafat dan sains, dan banyak lagi, sehinggga menghasilkan sebuah pandangan baru tentang dunia non-Kristen, di mana pandangan tak ada keselamatan di luar Gereja (Nulla Salus Extra Ecclessiam) dan orang beragama lain adalah kafir dipertanyakan kembali secara kritis dan humanis.
Bagi saya, Islam dalam pemikiran Wahib adalah sebuah agama yang problematis dan menyimpan sejuta tanda tanya. Ia dengan ekstrem menyoalkan dan mempertanyakan Islam yang oleh kalangan lain dianggap sebagai solusi, agama yang sempurna. Dalam pembacaan saya yang terbatas terhadap pemikiran Wahib, agaknya ada dua hal yang menurutnya menjadi problematika Islam. Pertama, problem yang berasal dari sumber primer Islam sendiri. Yaitu beberapa ajaran Islam, yang oleh Wahib tanpa segan-segan dikatakan jelek, tidak lebih baik dari sejumlah ajaran segelintir manusia. Tentu saja ini adalah sebuah pemikiran yang sangat berani. Karena mengatakan Islam memuat ajaran jelek sama saja dengan menantang doktrin keagamaan yang telah dianggap final. Yang baginya justru sebaliknya: bahwa ajaran Islam tidak final, namun perlu ditinjau kembali. Dan karena itu diperlukan akal bebas untuk memahami al-Quran dan Sunnah sehingga hakikat Islam dapat ditemukan. Berislam tidak cukup hanya dengan pemahaman harfiah, akan tetapi butuh pembacaan kritis terhadap monopoli tafsir terhadap Islam.
Sedangkan masalah kedua yang dimiliki Islam, menurut Wahib berasal dari luar, yaitu vakumnya tradisi filsafat dalam Islam. Kevakuman ini baginya telah menyebabkan lahirnya keislaman yang statis. Di mana sikap kita yang tidak berjarak pada doktrin keagamaan telah memunculkan “pemerkosaan” terhadap teks-teks keagamaan, yang pada gilirannya mencetak Muslim emosional.
Mengurai sejarah Nabi, menuju Islam Kontekstual
Ah, membaca Wahib, kita pun jadi teringat pada Polemik Sastra Kontekstual 1980-an, di mana para intelektual kita kembali mempermasalahkan orientasi nilai bangsa yang hendak dilepas apabila ingin masuk ke dalam modernitas: Barat atau Timur? Persoalan mana yang sebenarnya telah diperdebatkan sejak paruh 1930-an. Dalam kasus ini, para pengusung sastra konstektual menolak sastra universal yang dipandang berdasarkan tolak ukur sastra dunia; sastra yang tak terikat waktu dan ruang. Karena bagi kaum kontekstualis, sastra unversal tidak ada, kecuali sebagai kedok ideologis sastrawan yang hendak bergabung dengan kelas dominan. Yang ada hanyalah sastra kontekstual, yaitu sastra dengan muatan kesadaran kelas yang terikat pada golongan pembaca tertentu.
Wahib, menurut saya juga seorang penganjur konstektualisme, tentu saja dalam bentuknya yang juga berbeda. Karena—meminjam Nirwan Dewanto—setiap pembacaan atas teks keagamaan (Quran, Hadis) pada dasarnya adalah upaya menyingkap konteks yang melahirkan teks-teks tersebut, mencoba membongkar kuasa dan sejarah yang membuat tafsir hari ini membelenggu kita sebagai pembaca. Yang dalam hal ini, saya kira, kita akan menemukan sebentuk studi filologi yang membuat teks penuh dengan paradoks, yang mampu menggerakkan nalar dan kreativitas. Karena itulah, menurut Wahib, Islam telah dan harus diterjemahkan kepada konteks budaya setempat secara produktif, penuh analitis dan kreatif dengan sikap sebagai seorang manusia yang merdeka.
Maka ia pun mencoba menafikan Al-Qur’an dan Hadis sebagai dasar Islam. Di mana menurutnya sumber-sumber pokok untuk mengetahui Islam atau katakanlah bahan-bahan dasar ajaran Islam, bukanlah Qur’an dan Hadis melainkan Sejarah Muhammad. Bunyi Qur’an dan Hadis adalah sebagian dari sumber sejarah dari sejarah Muhammad yang berupa kata-kata yang dikeluarkan Muhammad itu sendiri. Sumber sejarah yang lain dari Sejarah Muhammad ialah: struktur masyarakat, pola pemerintahannya, hubungan luar negerinya, adat istiadatnya, iklimnya, pribadi Muhammad, pribadi sahabat-sahabatnya dan lain-lainnya.
Di sinilah, Wahib mencoba memahami teologi yang antrophosentris sekaligus teleologis, yang mengajarkan tentang manusia, sejarah dengan tujuannya. Di mana sekularisasi dilihatnya sebagai suatu realitas sosiologis tak terelakkan dan proses sejarah yang terus berkesinambung. Maka pembaharuan baginya haruslah bertolak dari manusia itu sendiri (masyarakat). Masyarakat harus menjadi mitra dialog utama dalam setiap pembaharuan Islam yang ditujukan bagi mereka.
Pada sisi lain, Ahmad Wahib memang memandang Islam sebagai agama merupakan sesuatu yang statis, abadi dan universal, yaitu Islam dalam artian sebagai Islam das Sollen atau Islam yang seharusnya, yang pada taraf ini ia adalah Islam yang sempurna, Islam yang ”shalih likulli al-zaman wa al-makan”, Islam yang memadai di mana dan kapan pun. Tetapi kesempurnaan Islam yang dimaksud Ahmad Wahib ini adalah Islam yang menjadi sumber moral yang mampu menggugah dan menerangi jiwa manusia. Bukan Islam barang jadi siap pakai, bukan pula Islam yang secara detail mengatur tingkah laku dan mengatur hukum-hukum kehidupan. Ia hanyalah titik tolak bagi munculnya berbagai perilaku dan hukum yang terbentuk menurut historical setting suatu masyarakat pada waktu dan tempat tertentu.
Karenanya, Islam semacam ini lebih kepada suatu model ideal, yang aplikasi terhadapnya harus disesuaikan dengan kehidupan manusia yang meruang dan mewaktu. Maka, menjalankan Islam sebagaimana masa lampau hendak dikaji ulang, kemodernan (baca: kontemporer) dalam menjalankan agama harus terus-menerus dipertimbangkan kembali. Dari sini nilai-nilai dan sistem Islam yang lama dianggap usang dan perlu diperbaharui. Agama dianggap tidak bermakna apa-apa jika pemahaman atasnya tidak diberangkatkan pada yang kontekstual (menyejarah). Bahkan pada taraf tertentu agama dibedakan dari praktik pergulatan antar manusia (sekularisasi).
Dengan dasar pemahaman seperti inilah, Wahib meyangsikan bahwa manusia akan menemukan Islam sebenar-benar Islam, atau Islam menurut pembuatnya sendiri, menurut Allah. Lantaran bagaimana pun kita adalah makhluk profan, yang meruang dan mewaktu, sedangkan Tuhan dan kalam-Nya adalah suatu hal yang transendental. Dengan demikian dalam dunia, manusia hanya mampu mendekati Tuhan dan mendekati Islam yang sejati itu, bukan meraihnya. Bentuk finalitas Islam dalam al Quran dan Hadis bukanlah Islam itu sendiri, sebab al Quran dan Hadis secara material merupakan hal yang profan juga, hasil sintesa problem kemasyarakatan dan respon umat dalam ruang dan waktu tertentu—meskipun dalam al Quran dan Hadis termuat nilai-nilai tertinggi (ultimate values) yang immortal sepanjang zaman dan berlaku di segala tempat. Tentunya, apa yang kita anut selama ini bukanlah Islam dalam pengertian Islam menurut Tuhan, melainkan Islam yang menyejarah, Islam versi kita.
Tetapi apa yang transenden dan yang ideal tersebut tentu saja harus terus-menerus didekati, dan dipikirkan cara mendekatinya. Memikirkan dan berusaha terus-menerus untuk mendekati yang transenden ini seyogyanya adalah tugas kemanusiaan sesuai fitrah kita. Namun karena batas yang tak diketahui, maka akal pun dituntut untuk berpikir sebebas-bebasnya dalam menafsirkan apa yang ideal dan transenden itu, untuk memungkinkan kontektualisasinya di dunia profan. Di sinilah, pada medan penafsiran, kita memperoleh bagian kita.
Dari pemikiran Ahmad Wahib ini, tampak jelas kalau ia hendak melakukan penegasan bahwa ada perbedaan antara agama dan konseptualisasi terhadap agama, ada perbedaan antara Islam dan pemikiran-pemikiran terhadapnya. Tetapi kesadaran seperti inilah yang kerapkali tak dimiliki oleh kebanyakan kaum Muslimin, sehingga mereka cenderung menganggap bahwa apa yang mereka pahami, itulah pemahaman menurut Tuhan.
Padahal kita tahu, kalau Wahyu turun berdasarkan historical setting. Dalam proses pencarian ”seorang anak Quraisy” yang cemas, takut sekaligus penuh kerinduan, kasmaran... Hal mana yang bagi kita di zaman ini, dapat juga berarti bahwa setiap pribadi, sesuai dengan keunikannya-lah yang sesungguhnya berhak menentukan dan menafsirkan ketentuan-ketentuan Tuhan bagi dirinya sendiri, di mana Aqidah, syari’ah, dan moralitas menjadi private concern.
aku telah nemukan jejak
aku telah mencapai jalan
tapi belum sampai tuhan
berapa banyak abad lewat
berapa banyak arloji pergi
berapa banyak isyarat dapat
berapa banyak jejak menapak
agar sampai padaMu?
Paling tidak demikianlah Sutardji Calzoum Bachri, presiden penyair itu meneriakkan puisinya di atas mimbar setelah meneguk bir sebagai sebentuk proses pencarian dan kerinduannya pada Tuhan. Kata-kata itu meluncur deras dari mulutnya serupa zikir. Tentu saja, tak setiap dari kita bisa dan siap menerima bahwa ini adalah sebuah refleksi iman. Namun saya harus bersepakat dengan Goenawan Mohamad, kalau kegelisahan dan kerinduan—pun sebagaimana yang diamalkan oleh Sutardji—memang sulit untuk betah dengan peta yang tersedia. Amir Hamzah misalnya, melukiskan hubungannya dengan Tuhan sebagai ”bertukar tangkap dengan lepas”. Menurut saya, inilah ijtihad; penafsiran yang berbeda-beda atas pedoman sesuai dengan tuntunan hati nurani setiap pribadi manusia—seperti yang dimaksudkan oleh Ahmad Wahib!
Karena itu, saya harus memaklumi kalau bagi seorang Sutardji dan Amir Hamzah, agama bukanlah semacam ”tasik dengan riak yang tenang”. Tuhan, memang bisa dijinakkan dalam aqidah, rumusan hukum, suntikan doktrin, tetapi toh, ia sesungguhnya tak akan pernah bisa dikerangkeng untuk tidak menemui kekasihNya yang majenun! Lewat pelbagai ragam cara dan rupa. Tingkah pola dan gaya. Pro eccelessia et creatio!***
Gaten, Yogyakarta, Maret 2008
Friday, April 4, 2008
cerpen

Sunlie Thomas Alexander
APAKAH waktu memang sudah membeku? Atau masih terus bertetesan seperti jam pasir? Apakah di luar sana dunia sudah berganti abad baru?
Ia mengintip dari kegelapan. Tak tampak apa-apa olehnya selain kepekatan yang menghampar. Malam seperti mengambang. Tapi ia tahu, di atas langit sana, bulan sedang penuh, tergantung seperti lentera. Dapat ia rasakan pancaran wibawanya, sebagaimana ia mengendus aroma busuk para makhluk liar dari alam tak kasat mata yang berabad-abad bersekutu dengannya. Juga para makhluk haus darah lain yang selalu berkeliaran di bawah terang purnama.
Ia mengusap wajah, bahu, dan kedua lengannya. Hm, masih saja mulus seperti dulu. Seperti malam itu, ketika tubuh sintal ini dipinjamnya di sebuah kedai kecil yang terletak di pinggiran kota. Kedai kecil yang hingar-bingar dengan musik, senantiasa ramai disinggahi lelaki-lelaki picisan berlagak koboi entah dari mana dan gadis-gadis belia yang tak pernah betah di rumah.
Malam yang celaka! Ia ingat benar bagaimana pemburu terkutuk yang membawa-bawa nama Tuhan itu menjebaknya dengan gambar Kunci Solomo. Ah, seharusnya ia tahu, malam itu ia tak perlu datang menanggapi panggilan di pertigaan jalan. Ia keliru kalau berpikir bahwa tubuh yang molek dan ranum ini bisa memperdaya si pemburu. Ia begitu yakin saat itu, entahlah. Padahal semestinya ia lebih waspada.
Diketuk-ketuknya dinding goa yang lembab. Tapi yang terdengar hanyalah gema berkepanjangan melewati gorong-gorong bercecabang di antara sesuara riak air di balik dinding. Terdengar berirama seperti sebuah lagu yang mengalun.
Begitulah. Barangkali ia memang terlalu meremehkan si pemburu. Tapi lantaran rasa angkuh atau dendam, ia justru begitu girang ketika menerima panggilan yang lamat-lamat dihantar angin malam itu. Ia berpikir itulah waktu yang tepat baginya untuk memusnahkan si pemburu setelah bertahun-tahun. Ya setelah bertahun-tahun ia dan kaumnya, peranakan cahaya yang lahir dari pancaran sang Bintang Fajar, merasa dipermalukan. Diperlakukan layaknya binatang buruan. Tapi lelaki separoh baya itu ternyata begitu licin, Kawan! Seperti ular tua di reranting pohon apel itu...
Tentu ia ingat kisah penciptaan. Waktu baru terbentuk, ruang baru terbentuk, juga udara, suara dan cahaya. Setelah menjadikan benda-benda, yang bernyawa dan tak bernyawa, Tuhan pun menjadikan manusia dari debu tanah yang kotor, menurut bayang-bayang-Nya sendiri yang dipantulkan cermin semesta. Hanya para malaikat yang bersenandung riuh, meniup nafiri purba. Sang Bintang Fajar menolak debu-debu kotor itu ditempatkan dalam kemuliaan Taman Eden, konon lantaran ia tahu keturunan sang manusia hanya akan membuat kerusuhan. Tuhan murka dan melemparkannya ke jurang maut, ke dasar kegelapan. Sang Bintang Fajar pun melesat jatuh seperti meteor, namun tersangkut di reranting pohon apel pertama di tepi taman itu lalu menjelma ular tua yang sangat berbisa.
Ia ngungun, masih menyimak suara riak air dari kegelapan. Satu-satunya suara paling setia yang menemaninya, seperti mengalir dari masa silam. Dari hulu waktu, dan bermuara entah di mana.
PASTI bakal mudah baginya mengalir keluar seperti air atau menguap seperti embun, jika saja sekeliling goa keparat ini tak ditaburi garam dan belerang, dua unsur alam yang entahlah, seolah memang ditakdirkan kosmos menjadi lawan segala kejahatan. Ya, kalau saja pada langit-langit goa di atas kepalanya tak ada gambar Kunci Solomo yang celaka. Ah, terkutuklah pengetahuan alkemi dan geometri yang telah membuat kekuatannya yang mengatasi ruang dan waktu laksana kabut tersapu hangat sinar matahari!
Ia menggerutu, kembali mengenang malam celaka di pertigaan jalan yang lengang itu, tak jauh dari kedai kecil. Ia muncul seperti bayangan di belakang si pemburu. Menyapanya dengan lembut. Pemburu terkutuk itu tampak agak kaget, mungkin tak menyangka ia akan muncul sebagai sesosok gadis belia yang begitu rupawan. Tapi hanya beberapa saat. Pemburu itu kemudian menatapnya tak berkedip, penuh kebencian. Ia tak gentar. Perlahan dihampirinya lelaki separoh baya itu dengan langkah ringan. Ia begitu yakin pemburu itu tak bakal menang. Bukankah saat itu tepat pukul tiga dinihari? Ketika jarum jam sedang berada pada posisi terbalik dengan waktu penyaliban Putra-Nya? Saat kekuatan gelap, kekuatan mereka yang sedingin ruang hampa tengah mencapai puncaknya...
Ia mondar-mandir di pelataran goa. Terkesiap ketika sesayup menangkap lagi suara lolongan sedih. Lolongan yang seolah-olah datang dari dasar kegelapan, dari sebuah tempat yang begitu jauh sekaligus seolah berasal dari dalam tubuhnya sendiri. Tentu ia segera mengenali suara lolongan pilu itu sebagai lolongan anjing kesayangannya. Anjing tanpa wujud yang ratusan tahun bersetia mengikutinya, menjemput jiwa-jiwa yang terjanjikan untuknya. Jiwa-jiwa yang tolol dan malang, yang berteriak-teriak tak mau mati ketika dijemput. Tapi mereka pulalah yang memanggilnya, mengadakan perjanjian dengannya pada malam-malam bulan mati di pertigaan jalan itu. Ia tidak ingat berapa jiwa yang telah diambilnya dari waktu ke waktu. Dari abad ke abad. Di berbagai tempat.
Bertahun-tahun ia memang selalu muncul ke pertigaan jalan yang lengang itu dalam beragam rupa. Memenuhi setiap panggilan. Membuat kesepakatan dengan orang-orang yang datang ke sana dan meletakkan selembar foto ke dalam kotak kayu berisi tulang-belulang binatang.
Ah, kota kecil itu hanyalah sebuah kota persinggahan. Begitu banyak orang yang bertandang dari berbagai penjuru dan pergi ke berbagai penjuru lain. Tentu, sekadar tinggal satu-dua malam kemudian meneruskan perjalanan entah ke mana. Tapi sebagian musafir itu mampir ke kedai untuk menghabiskan malam dengan beberapa botol bir atau secangkir kopi, menikmati musik dan bercengkrama dengan pelacur-pelacur belia. Begitulah pemilik kedai kecil itu menghidupi dirinya. Aha, ia lelaki kulit hitam, sudah tua tapi penuh humor. Ia terus mengenang.
Ia sendiri datang ke kedai kecil itu sebagai seorang pelaut separoh baya, tepatnya meminjam tubuh seorang pelaut lusuh yang telah lelah berlayar. Mereka senang mendengarkan bualannya dan membelikannya bir. Setiap malam ia selalu berceloteh kepada mereka, menuturkan beragam kisah petualangan sampai yang paling tak masuk akal. Para musafir itu tertawa terbahak-bahak, kadangkala terpukau takjub.
Tak lama kemudian mulailah beredar sebuah cerita: apabila kau datang ke pertigaan jalan lengang tak jauh dari kedai itu sekitar pukul tiga dinihari saat bulan mati dan menguburkan fotomu bersama tulang-belulang binatang dalam sebuah kotak kayu tepat di tengah-tengah pertigaan, maka akan muncullah seseorang--katakanlah seorang gadis atau pria muda yang rupawan atau bisa jadi seorang tua berwajah arif-bijaksana--yang bakal mengabulkan permintaanmu...
Tahun demi tahun pun berlalu.
KEMBALI ke malam yang celaka ketika ia masih menatap pemburu jahanam itu. Tepatnya, mereka saling menatap. Seolah saling mengukur kekuatan dan menebak pikiran masing-masing. Ia tersenyum tipis ketika menangkap kegelisahan di hati si pemburu. Ia mencoba membaca pikiran lelaki separoh baya itu, tapi si pemburu buru-buru menghalau usahanya dengan melafazkan doa-doa. Mungkin Bapa Kami atau Salam Maria, ia tak tahu. Dengan sabar, ia menunggu lelaki itu lengah.
"Apa kau datang kemari untuk mengadakan perjanjian denganku?" ia bertanya dengan suara kenes, "Atau hendak membunuhku?"
"Aku akan mengirimmu kembali ke neraka!" desis pemburu itu menatapnya tajam. Tapi nada suara lelaki itu terdengar bimbang. Ia menyeringai, menjilati bibirnya yang merah basah. Didengarnya detak jantung lelaki itu tak beraturan. Disibaknya rambut panjangnya dengan gerakan halus hingga lehernya yang putih jenjang terbuka menggoda.
"Dengarlah, aku tahu hasrat yang tersimpan di hatimu," ia berbisik lembut. Lelaki itu hanya diam. Udara demikian dingin.
"Aku bisa membawa anak-isterimu yang sudah mati hidup kembali," ia membujuk-rayu. "Kalau kau mau, kalian bisa berkumpul lagi..."
"Aku tidak akan tergoda, Pendusta!" rahang pemburu itu tampak mengeras.
"Aku tidak bohong. Kau tahu, aku bahkan bisa merasuki Sang Maut," ia mulai melangkah mendekati lelaki itu. Si pemburu tak bergerak, tapi tetap waspada. Ia tahu, di balik jaket kulitnya, pemburu itu menyimpan senjata api dengan peluru-peluru yang sudah direndam air suci. Tapi si pemburu tak bakal berani menembak tubuh gadis yang dikenakannya.
"Bagaimana?" ia mengulum senyum. Kedua mata pemburu itu membesar. Ia merasa hati pemburu itu sedikit goyah.
"Aku tetap akan memaksamu kembali ke neraka," si pemburu menggeram. Ia tertawa tergelak, hingga payudaranya yang tak sepenuhnya tersembunyi di balik gaun berleher rendah tampak berguncang. Jaraknya dengan lelaki itu kian kecil.
"Kau bisa saja melemparkanku ke neraka, tapi dengan mudah aku bisa keluar lagi," ia berkata, dan setiap langkah yang dibuatnya membuat pinggulnya bergoyang lembut, "Jadi pikirkanlah..."
"Tinggalkan tubuh gadis ini, atau...," pemburu itu tidak meneruskan kata-katanya.
Ia merasa kedua mata lelaki itu tertuju pada belahan dadanya yang membusung.
"Atau kau akan menyiramku dengan air suci? Menyemburku dengan garam? Atau kau tega menembak gadis cantik ini?" ia menyeringai. Merasa di atas angin. Kini ia telah berdiri begitu dekat di hadapan lelaki itu, jarak tubuh mereka tak lebih dari satu jengkal. Dapat dirasakannya deru nafas si pemburu yang tidak beraturan.
"Kalian manusia diciptakan untuk memilih," ia mengulum senyum nakal, "Dan aku memberimu pilihan."
Lelaki itu tidak menjawab, tapi menoleh ke jurusan lain lalu mendongak ke langit yang muram. Ia sudah tahu bakal mendengar pertanyaan itu. Ya, ia sudah tahu. Pertanyaan yang mungkin telah lama tersirat di hati si pemburu, yang melahirkan kebimbangan.
"Berapa lama kau beri aku waktu kalau aku terima tawaranmu?" suara si pemburu seperti tercekat. Aha! Ia tersenyum penuh kemenangan. "Sepuluh tahun, Sayang. Sepuluh tahun untukmu berkumpul dengan anak-isterimu. Cukupkah?"
Pemburu itu menatapnya dalam-dalam. Ia mengulurkan tangan. Dirabanya dada bidang lelaki itu dengan jari-jemarinya yang lentik, terasa benar degup jantung yang mengencang, terasa benar hati yang bimbang. Si pemburu tak berusaha menepis tangannya.
"Aku juga akan memberimu hadiah tubuh ranum ini," ia meliuk, hendak memeluk tubuh lelaki itu, tapi sekonyong-konyong tawa si pemburu pecah.
"Kau terjebak, Iblis!" si pemburu mencekal lengannya. Ia tersentak kaget, mencoba melepaskan tangannya tapi tenaga lelaki itu tiba-tiba begitu kuat. Ia terbelalak ketika memandang ke bawah. Di atas tanah, tepat di mana mereka berdiri, samar-samar tampak tergurat sebuah gambar bintang segi enam dengan dua lapis lingkaran di bagian tengah. Tentu, tentu ia segera mengenali perlambang yang tampak dibuat tergesa-gesa dengan sebatang ranting itu.
Sekujur tubuhnya lemas tiba-tiba.
APAKAH waktu bakal tetap mengeras seperti batu? Atau mulai meleleh lalu mengalir lagi serupa air, serupa darah. Atau, bukankah kadangkala pula waktu muncrat seperti semburan gas dari kedalaman tanah?
Lolongan anjing yang panjang memilukan itu masih terdengar. Kini semakin mencekam. Seperti mencabik-cabik perasaan siapa pun yang mendengarnya, membuat ciut nyali yang paling garang. Ia menyeringai kecil, merasa saatnya akan segera tiba. Tak lama lagi. Pemburu terkutuk itu mungkin sudah mati, tapi akan diburunya keturunan lelaki keparat itu biarpun tersebar di seluruh muka bumi.
Anjing setia itu terasa olehnya berada tak jauh darinya. Mungkin berkeliaran di sekitar goa. Atau mendekam di sebuah tempat menunggu saatnya tiba, sambil memberinya lolongan pilu setiap malam sebagai isyarat penanda. Mungkin anjing itu juga tak sabar lagi seperti dirinya. Sudah berapa lamakah binatang yang haus darah itu tak mencicipi darah segar korbannya?
Ia ingat pada jiwa terakhir yang ia ambil melalui anjing itu. Seorang pria santun bertampang tikus yang mabuk kasmaran pada seorang gadis pegawai toko bunga. Cintanya tak bersambut, dan pria itu bergegas menanggalkan iman yang dirawatnya susah payah dengan setiap minggu mengunjungi gereja, dan memanggilnya. Tentu, sekali lagi, cukup dengan selembar foto dan tulang-belulang binatang yang dimasukkan ke dalam kotak kayu lalu ditanam di pertigaan jalan itu. Seperti cinta dan benci yang menyatu. Dengan memelas, pria itu memohon pertolongannya untuk mendapatkan si gadis. Tak sulit baginya mengabulkan permintaan semacam itu. Sebulan kemudian pria tikus itu sudah mempersunting wanita pujaannya.
Ya, betapa ia akan selalu mengenang pertigaan jalan yang lengang itu, mengingat orang-orang malang yang bertandang di dinihari lalu menunggunya dengan harap-cemas di sana. Biasanya ia akan mengintai calon-calon korbannya terlebih dahulu sebelum muncul begitu saja seperti hembusan angin. Kau tahu, tentu ada kenikmatan tersendiri mengamati wajah-wajah gelisah tak sabaran para calon penghuni neraka itu. Menyaksikan mereka mondar-mandir dengan gugup, antara takut dan nekad.
BEGITULAH dulu. Sebelum waktu yang membeku di goa celaka ini mengurungnya. Ah, mungkin sebagian dari korbannya bukanlah orang-orang yang pantas masuk neraka. Mereka adalah orang-orang baik: pria-pria yang budiman, gadis-gadis yang lugu. Tapi Tuhan, Sang Maha Kuasa, kau tahu, kadangkala memang suka mengelak dari takdir yang dijatuhkan-Nya sendiri. Dan manusia justru sempurna karena kelemahannya menahan goda, namun beberapa di antaranya larut ke dalam uji-coba. Demikian ia kerap berwejangan, menghasut mereka.
Ya, ia mengingat betul sejumlah korban terakhirnya: seorang pemain blues yang tak kunjung diakui, seorang dokter muda yang dipecat dari rumah sakit karena membantu korban perkosaan menggugurkan kandungan, seorang remaja yang diusir orangtuanya dari rumah. Bahkan seorang padri. Betul, seorang pastor yang merasa diremehkan umat.
Ah, sebenarnya apalah beda seorang padri dan awam baginya? Bukankah seorang awam seperti pemburu terkutuk itu pun bisa membuat air suci dari keyakinan iman?
Diketuk-ketuknya dinding lembab goa yang merapuh. Anjing itu kembali melolong sedih di kejauhan. Agaknya waktu pelan-pelan memang mulai mencair, ia yakin. Ia mendongak ke langit-langit goa, melihat gambar Kunci Solomo di atas kepalanya yang tampak semakin pudar. Tubuhnya terasa kian segar, agaknya kekuatannya mulai kembali padanya. Tentunya taburan garam dan belerang di sekeliling goa celaka tempat ia disergap ini kian habis menguap. Ia akan segera keluar untuk membalas kekalahan. Dadanya berdebar, menunggu waktu sepenuhnya mencair lalu mengalir lagi.
Terakhir kali, masih sempat dikenangnya bagaimana pemburu terkutuk itu mengikat tangan-kakinya dengan tali yang basah terendam air suci lalu memasukkannya ke dalam sebuah karung dan membawanya kemari, sebelum tiba-tiba ia mendengar suara-suara bergemuruh. Ah, batu-batu berhamburan jatuh dari langit-langit goa yang runtuh! Suara lolongan anjing itu terdengar panjang melengking. Samar-samar, sekilas, dilihatnya bayangan bulan yang pucat pasi. Ketika angin kencang berhembus masuk ke dalam goa, serupa embun dirinya yang menguap perlahan-lahan... Ia tertawa hingga seluruh dinding goa bergetar keras dan batu-batu besar-kecil berjatuhan.
Ia tak tahu agaknya, kalau di luar sana ia akan segera berhadapan dengan pemburu-pemburu yang baru. Tapi sebagian di antaranya tak lagi membawa nama Tuhan. Apakah kau juga termasuk salah satu?
Malam begitu dingin. Langit seperti menggigil.***
Gaten, Yogyakarta, 2007-2008
Catatan
Bintang Solomo, bintang segi enam mirip Bintang Daud atau pentagram, yang konon dipercayai merupakan perangkap bagi iblis. Di dalam dua lapis lingkaran bagian tengahnya seringkali ada gambar kalajengking.
Bintang Fajar adalah sebutan untuk Lucifer (nama penghulu Iblis dalam tradisi lama Gereja). Kata "Lucifer" ini digunakan oleh Jerome di abad keempat ketika menerjemahkan Vulgata (Alkitab Latin) dari bahasa Ibrani. Heylel (Ibrani) adalah Bintang Timur alias planet Venus, sedangkan Ben Syakhar adalah Putra Fajar. Terjemahan bebas kitab Yesaya 14:12 dalam bahasa Latin itu berbunyi, "Wahai engkau jatuh dari langit Bintang Timur, Anak Fajar! Engkau dibuang ke bumi, di mana engkau mengalahkan bangsa-bangsa."
Wednesday, March 26, 2008
Wednesday, February 20, 2008
Jangan Lupa Pilih Sunlie ya?

Syarat dan Ketentuan Voting SMS Anugerah Sastra Pena Kencana 2008
Tata Cara Pemilihan:
Ketik SMS: PENA
Kirim ke: 3977
Contoh:
PENA GM1234567 C001
(Kode buku dan kode puisi/cerpen hanya terdapat di dalam buku 100 Puisi Indonesia Terbaik 2008 atau 20 Cerpen Indonesia Terbaik 2008 yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama).
Hadiah:
Pemenang I Rp.25.000.000,-
Pemenang II Rp.15.000.000,-
Pemenang III Rp.10.000.000,-
Syarat:
SMS terbuka dari tanggal 15 Februari - 15 Agustus 2008.
Pemenang undian SMS dan Cerpen/Puisi Terbaik Pilihan Pembaca peraih Anugerah Sastra Pena Kencana 2008 akan diumumkan tanggal 1 September 2008 di www.penakencana.com dan www.gramedia.com
Pemenang wajib menunjukkan bukti buku yang dibeli beserta nomer yang tertera pada buku tersebut ketika mengambil hadiah.
Hadiah ini tertutup bagi Panitia Anugerah Pena Kencana, pihak Penerbit, pihak Percetakan dan keluarganya.
Catatan: 1. Biaya Rp.2000,- per SMS 2. Pajak ditanggung pemenang 3. Kode judul cerpen/puisi lihat halaman “Daftar Isi” 4. Kode buku ada pada lembar terpisah di buku yang Anda beli.
"Jangan lupa pilih puisi-puisi Sunlie Thomas Alexander, dan semoga Anda beruntung!"
(dari situs www.penakencana.com)
Sunday, February 17, 2008
2. Kupanggil ia "Kucing"
3. Sajak buat "Kucing"
RINDU MENUA
: cha-cha
semoga tuhan tak berkhianat
pada kita, di sebuah kota yang tergesa
menyusun namamu yang belia, atau
membekukan jejakmu yang manis
kekallah cintaku yang sederhana
menatap wajahmu remaja
di stasiun,
dan setiap keberangkatan yang tiba
sedangkan waktu masih bertahan
di sunyi-senyap pulau, di antara bayang bayang
yang merangkak begitu lelah
semoga tuhan, katamu
tak berkhianat pada kita
pada matahari dan rindu yang menua
kita bayangkan diri
sepasang dara, berabad abad lamanya
disergap rasa malu dan gelisah
Belinyu-Yogyakarta, 2007
Saturday, December 22, 2007
cerpen baru

Cerpen: Sunlie Thomas Alexander
Untuk Syekh Ahmad Sobri1
AKU memang tak pernah tahu kenapa kau ceritakan padaku tentang lada, ketika aku memintamu berkisah tentang kopi, tepatnya kisah tentang sebuah keluarga dan tiga cangkir kopi di Turki yang sering kau ceritakan itu untuk terakhir kalinya pada malam itu, Loh2.
Kenapa kau harus ceritakan padaku tentang seorang anak lelaki dua belas tahun yang sedang menakik-nakik kayu membuat gasing di ladang untuk menembus kekalahannya dengan kawan sepermainan, padahal bisa saja kau ceritakan lebih banyak lagi kisah tentang kopi yang begitu menarik setiap kali aku menghidangkan padamu secangkir kopi di malam hari. Dari cerita-cerita di kedai La Rotende di Rusia sampai ke Café du Dume di Perancis. Dari kisah seorang penggembala domba di Ethiopia hingga kisah sebuah keluarga dan tiga cangkir kopi di Turki pada pertengahan abad kelima belas itu. Bukankah secangkir kopi—seperti katamu suatu ketika—memiliki riwayat begitu panjang yang telah mengubah dunia? Revolusi Perancis pun dimulai dari kedai kopi, tukasmu kalem.
Namun akhirnya kusimak juga kisahmu malam itu dengan agak malas-malasan. Dan tanpa mempedulikan wajahku yang mungkin tampak sedikit masam, kau terus bercerita bagaimana sang ayah kemudian muncul dari belakang pondok ladang sambil memikul junjung—batang kayu untuk merambat tanaman lada—dan memanggil anak lelaki dua belas tahun itu lalu mengajaknya memetik lada dengan janji upah dua puluh lima rupiah perkaleng mentega.
Seperti biasanya, juga tak ada yang istimewa dalam ceritamu kali ini, Loh. Tapi entahlah, sebagaimana cerita-ceritamu yang lain tentang kopi, lambat laun aku kembali merasakan ada denyut-denyut yang aneh di dadaku. Denyut yang mencemaskan sekaligus mendatangkan perasaan tenteram. Kenapa seperti ini, Loh? Barangkali kau pun tidak bisa menjawabnya.
Mendengar ceritamu yang mengalir dengan lancar, seolah-olah dapat aku rasakan debar di dada anak lelaki dua belas tahun itu saat menyibak helai demi helai daun lada mencari juntaian buah lada masak yang kadang-kadang tersembunyi. Seakan-akan pula aku dapat mencium wanginya aroma tanaman lada dan bau humus, atau menangkap suara merdu burung-burung srintid yang sesekali terdengar di antara pepohonan.
Demikian juga tatkala kau ceritakan bagaimana terpukaunya anak lelaki dua belas tahun itu saat melihat keringat berkilauan yang memercik dari tubuh kekar ayahnya setiap kali sang ayah mengangkat dan menghunjamkan batang-batang junjung ke tanah hingga menimbulkan bunyi yang keras, bluubb! bluuub! Aku seakan merasa benar-benar ikut terpukau meskipun tidak sungguh-sungguh paham.
Ah, tiba-tiba saja aku merasa ceritamu itu begitu menggairahkan. Membuat tubuhku yang penat terasa segar kembali seperti halnya anak lelaki dua belas tahun itu dan ayahnya ketika mereka akhirnya memutuskan mandi di sebuah danau kecil bekas galian penambangan timah usai merendam butir-butir lada yang baru dipetik. Air danau yang dingin itu serasa meresap ke dalam pori-pori kulitku, membuatku sedikit menggigil. Terlebih kemudian membayangkan ayah-anak itu harus menempuh jarak dua puluhan kilometer pulang ke rumah dengan berboncengan vespa butut selepas sholat magrib di Kampung Riau. Betapa udara malam yang dingin merasuk sampai ke tulang sumsumku.
Karena itu mereka mengunyah lada, katamu. Aku terpana menatapmu. Benarkah itu, Loh? Mereka mengunyah lada? Aku tidak tahu bagaimana rasanya mengunyah lada. Pasti pedas sekali di mulut, Loh.
Ya, pedas dan panas, lebih pedas dari cabe kalau tidak terbiasa karena rasa pedas dan panasnya itu akan bertahan sampai lama lalu menjalar ke sekujur badan bersama aliran darah, katamu sambil tersenyum. Tapi karena itu tubuh jadi terasa hangat, kadang-kadang sedikit berkeringat.
Penduduk pulau kecil itu memang punya kebiasaan mengunyah lada untuk menghalau dingin, lanjutmu. Biasanya mereka akan memasukkan tiga butir lada ke mulut tatkala hendak keluar rumah malam hari, lebih-lebih pada malam-malam bulan mati ketika burung-burung Kuwek yang selalu terbang terbalik keluar dari sarangnya dan berkoak-koak nyaring mengabarkan kematian. Mereka percaya kalau lada juga berkhasiat menjadi penangkal yang baik untuk hal-hal gaib, katamu lagi-lagi tersenyum.
Aku kian takjub walaupun semakin tidak mengerti.
“Kau mau coba mengunyah lada?” tanyamu tiba-tiba, sekali ini sambil menghirup kopi yang kusediakan. Aku tidak menggeleng tapi juga tidak mengangguk, aku hanya tersipu mendengar tawaranmu.
Ah, bagaimana kalau selain cengkeh, kayu manis, kapulaga dan adas manis, sesekali aku campurkan juga lada ke kopimu, Loh?
Untuk Hamidah3
AH, aku juga tidak mengerti, Midah, kenapa aku menceritakan tentang lada padamu ketika kau memintaku bercerita tentang kopi…
Aku rasa, lada pun memiliki riwayat tak kalah panjang yang ikut berandil mengubah dunia seperti halnya kopi. Sebagaimana yang pernah kubaca di buku-buku sejarah, lada adalah salah satu jenis rempah-rempah yang menarik para penjelajah dari Eropa untuk menempuh pelayaran separoh dunia, Midah. Pada tahun 1519, Magellan misalnya, sudah mendapat perintah rahasia dari pemerintah Spanyol untuk mencari informasi tentang lada.
Atau mungkin kau sudah pernah mendengar bagaimana dulu Belanda memaksa para petani di Banten menanam lada, sekali pun hal itu tidaklah menguntungkan bagi rakyat sehingga kemudian menimbulkan pemberontakan?
Tapi aku tidak ingin membahas sejarah lada denganmu, Midah. Mungkin di lain waktu. Aku hanya ingin mengisahkan lagi sebuah cerita lain tentang lada padamu...
Cerita ini mengenai seorang ayah dengan tiga orang anak gadisnya di sebuah kampung kecil bernama Delas di ujung selatan pulau kecil itu. Kampung kecil yang ramai dengan mayoritas penduduknya petani lada.
Kau tahu Midah, sudah lama sekali menjadi tradisi di kampung itu, kalau setiap panen tiba—apalagi panen raya yang gemilang—mereka akan menikahkan anak bujang-gadisnya dengan pesta pernikahan yang gegap gempita. Pesta bisa saja berlangsung selama tiga hari tiga malam. Seolah-olah menjadi dosa bagi mereka kalau sebuah penikahan yang sakral tidaklah dirayakan dengan meriah.
Biasanya, setelah upacara adat yang melelahkan dan dipenuhi mitos, pesta resepsi yang mengundang seluruh warga kampung itu pun diadakan dengan aneka hidangan mewah. Dan sebagai hiburan, tuan rumah yang punya hajatan seolah memiliki kewajiban memanggil band dari kota atau minimal organ tunggal. Didirikanlah panggung besar di halaman rumah dan warga kampung—terutama muda-mudi—akan berjoget semalam suntuk hingga menjelang subuh. Kau bisa membayangkan betapa besar biayanya bukan, Midah?
Karena itulah, setiap musim panen senantiasa diiringi dengan musim kawin. Sehingga wajar saja apabila selepas panen, kampung kecil itu akan menjadi begitu ramai oleh pesta penikahan. Kadangkala bisa mencapai berpuluh-puluh pasang pengantin, susul-menyusul. Seringkali pula, pasangan-pasangan muda itu dinikahkan secara massal di masjid besar kampung oleh seorang kyai.
Tapi bagaimana dengan yang tak punya ladang atau panennya gagal? Apakah itu alamat buruk si anak bujang bakal menggigit jari melihat pujaan hatinya disambar orang?
Ayah tiga anak gadis itu sudah menikahkan dua orang anak gadisnya selepas panen raya selama dua tahun berturut-turut. Yang paling tua, Fatimah diambil jadi menantu oleh Mang Amri—Ah, siapa pun tahu dia jurangan pupuk dan penadah lada. Sehingga bisa ditebak bagaimana meriah pesta penikahannya. Fathonah, anak nomor dua pun tak kalah semarak pestanya, lantaran sang pacar meskipun bukan anak orang berada, diam-diam menyimpan berton-ton lada di rumah hasil sisihannya pada setiap panen selama bertahun-tahun.
Dan kini tinggallah si bungsu yang manis, Fadhila. Anak yang paling disayanginya, paling cantik dan begitu mirip dengan almarhumah isterinya. Tentu saja si ayah berharap anak gadisnya yang pendiam itu akan memperoleh seorang suami yang baik dan hidup bahagia serba berkecukupan seperti kakak-kakaknya. Tentu pula, hal itu sebetulnya bukanlah perkara yang sulit mengingat si puteri bungsu begitu banyak yang naksir.
Tapi siapa nyana Fadhila, gadis yang sesungguhnya baru beranjak puber itu hatinya telah tertambat pada Zaid, teman sepermainannya semenjak kecil. Mula-mula si ayah memang tidak bercuriga pada kedekatan anak gadisnya dengan Zaid, anak yatim yang telah lama ikut membantunya menggarap ladang itu. Bukankah keduanya telah menjalin keakraban sebelum akil-baliq? Sejak mereka masihlah dua bocah polos yang bertelanjang bulat mandi hujan di ladang atau bermain petak umpet di sela-sela tanaman lada yang rimbun. Sampai suatu siang, dia melihat sendiri kedua anak remaja itu bermesraan di sela rumpun lada!
Begitulah, Midah. Ketika akhirnya si ayah menyadari kenyataan tersebut, cinta si bungsu tampaknya sudah tersangkut erat pada si pembantu. Demikian pula sebaliknya. Seiring dengan waktu, cinta itu pun tumbuh semakin subur di ladang yang gembur serupa tanaman-tanaman lada. Hijau segar dan rimbun. Hmm, mungkin lantaran memang selalu telaten dipupuk. Tentu, tentu inilah persoalannya...
Setelah kedua kakaknya menikah, lambat laun si bungsu mulai merasa risau. Apalagi belakangan, beberapa kali sempat terdengar olehnya namanya disebut-sebut dalam pembicaraan sang ayah dengan orang-orang yang bertamu. Dan tamu yang paling kerap bertandang tak lain adalah Mang Saad. Bukankah pula sudah lama ia tahu kalau Amir anak Mang Saad suka padanya? Ya, si bungsu paham benar apa artinya itu: ia mulai serius dilirik orang!
“Tapi bagaimana aku berani melamarmu, Dhila? Kau tahu, aku bahkan tak sanggup bikin pesta,” si pembantu tampak berputus asa, bersungut-sungut. Namun keningnya berkerut tatkala dilihatnya kekasihnya tersenyum-senyum.
“Bawa aku lari,” kata si bungsu. Si pembantu terbelalak.
“Kau berani atau tidak? Kalau tidak, biarkan saja aku dipinang si Amir!”
“Bukan tidak berani, tapi kita mau lari ke mana? Kita tak punya uang, lalu bagaimana pula dengan biaya hidup kita nantinya sebelum aku dapat kerja?” lelaki muda itu mengusap dahinya yang berkeringat. Gadis itu lagi-lagi tersenyum. Ia tahu ayahnya cukup menyimpan lada di gudang belakang rumah. Tidak banyak memang, tapi ada beberapa karung besar. Sisa panen tahun-tahun lalu yang sengaja dipisahkan. Ia bersijinjit lalu mendekatkan mulut ke telinga lelaki yang dicintainya. Lelaki muda itu kembali terbelalak, wajahnya berubah pucat.
“Aku tidak mau, Dhila. Aku tidak berani,” lelaki muda itu menggeleng, “Terlalu banyak hutang budiku pada ayahmu!”
***
“APAKAH mereka akhirnya jadi mencuri lada?”
Ah, kau penasaran dengan ujung cerita ini, Midah? Kulihat kau hanya mengangguk kecil. Tapi aku tidak segera meneruskan. Untuk beberapa saat lamanya aku hanya memperhatikan kopi di cangkirku yang tinggal seperempat, sebelum kemudian meraihnya lalu mendekatkan mulut cangkir ke bibirku dan menyeruput cairan pekat yang wangi itu perlahan. Seperti biasa, terasa agak pahit di lidah. Oh aku memang tak pernah menyukai kopi yang manis, karena itu harus berterima kasih padamu yang mengerti betul takaran kesukaanku ini. Sejenak aku menatapmu.
Ya, mereka akhirnya memang mencuri lada simpanan si ayah, Midah. Tapi aku tidak tahu bagaimana caranya mereka mengeluarkan berkarung-karung besar lada itu dari gudang penyimpanannya sebelum melenyapkan diri dari kampung.
“Si ayah pasti marah sekali,“ gumammu, seperti pada diri sendiri. Aku tersenyum. Tentu, Midah, tentu saja si ayah marah. Meskipun pada awalnya masih bisa menguasai diri. Ia baru meledak ketika membuka gudang penyimpan ladanya dan menemukan gudang itu telah kosong melompong, “Anak-anak kurang ajar!! Padahal lada-lada itu sengaja aku simpan untuk pesta pernikahan kalian nanti!”
Tubuh lelaki separoh baya itu sampai bergetar. Terbayang olehnya bagaimana ia menolak pinangan kawannya Saad dengan perasaan malu.
Aku melihat wajahmu agak terperangah. Kedua matamu menatapku sedikit terbelalak. Aku meraih lagi cangkir di atas meja. Lama kita sama terdiam, hanya sesekali saling melirik. Apa yang terjadi selanjutnya, Loh? Ke mana kedua pasangan muda itu melarikan diri? Apakah mereka hidup layak? Seperti biasa, selalu saja kau gemar mengajukan pertanyaan yang bertubi-tubi. Tapi… Aku menarik nafas panjang, membuangnya pelan-pelan.
Sampai tiga entah empat kali kau mengajukan pertanyaan, aku tak kunjung juga melanjutkan ceritaku. Aku hanya menunduk sembari mempermainkan sendok kecil di dalam cangkir, lalu pelan-pelan menghirup kopiku lagi—yang entahlah kali ini rasanya lebih pahit. Lewat ekor mata, aku melihat wajahmu kembali merengut kesal.
Kemudian kulihat kau melemparkan pandangan ke luar rumah melalui pintu yang masih terbuka lebar. Aku mengikuti pandanganmu. Sekeliling pekarangan tampak begitu gelap dan senyap. Pepohonan berbentuk bayang-bayang hitam. Memang sudah dua minggu bolam lampu di teras yang putus belum sempat kuganti. Ah, apakah malam ini malam bulan mati, Midah? Angin yang berhembus masuk mulai terasa dingin dan bertambah kencang.
Hmm, aku jadi merasa ingin sekali mengunyah lada. Ya, mengunyah tiga butir lada hingga mulut kepedasan seperti membara, Midah. Hingga rasa panasnya menjalar ke sekujur badan lewat aliran darah, kemudian meruap keluar bersama keringat. Meruap seperti kenangan! Ai, terbuat dari apakah kenangan?
Aku kembali menatapmu. Wajahmu yang cantik tampak semakin masam. Membuatku jadi bimbang.
Ah, haruskah aku kisahkan padamu kehidupan si bungsu dan si pembantu selanjutnya setelah mencuri lada di gudang penyimpanan sang ayah dan lari dari kampung? Haruskah aku ceritakan bagaimana kemudian mereka menikah di bawah tangan di sebuah kota kecil dan dikarunia seorang anak lelaki? Anak semata wayang yang selalu dibawa ke ladang dan lebih kerap disapa dengan panggilan Loh…
Ah, jangan merengut seperti itu, Midah. Apakah kau masih kepingin mendengar ceritaku yang lain lagi tentang lada?
Kuharap kau mau membuatkan lagi untukku secangkir kopi, Sayang…***
Solo-Yogyakarta, Nopember 2007
Catatan
* Sungguh, cerita ini diilhami sebuah cerpen Syekh Ahmad Sobri yang berjudul “Secangkir Kopi Terakhir Butir-butir Lada Yang Pertama” yang saya baca di sebuah suratkabar lokal kurang-lebih empat tahun silam. Saya membaca lagi cerpen ini di Jurnal PENDAR edisi khusus 2006 saat launching “Rumah Sastra” di Jebres, Solo beberapa waktu lalu.
1. Syekh Ahmad Sobri dilahirkan di Muara Enim, Sumatera Selatan, 1978. Dibesarkan di sejumlah tempat di Pulau Bangka. Sempat melanjutkan studi di UNS Solo.
2. Loh adalah nama anak lelaki dua belas tahun dalam cerpen “Secangkir Kopi Terakhir Butir-butir Lada Yang Pertama”. Dalam cerita ini, saya sengaja menggunakan nama Loh sebagai panggilan untuk diri Syekh Ahmad Sobri yang saya tuju, sebagaimana saya sempat menafsirkan tokoh Loh sebagai sang pengarang sendiri ketika membaca cerpen tersebut.
3. Hamidah adalah tokoh lain yang hadir sebagai orang yang diceritakan kisah-kisah tentang kopi dan lada dalam cerpen di atas.
Wednesday, November 21, 2007
puisi 3
Sunlie Thomas Alexander
RENDEZVOUS (1)
--malam malioboro; fadhila
katamu: tiba tiba aku mencintai kotamu!
tapi kota ini pun begitu asing
melulur tubuhku
sangsi dan nyeri membatu di dada
di depan perpustakaan tua;
artefak sejarah yang lelah,
bulan tak ada dan bangku ini dingin
seperti mataku
tetapi masih saja kau percaya,
keasingan bakal memberi kita warna,
meski bening
tak terusik udara yang rusuh
tinanda apa yang mesti kubaca?
dari mata waktu membeku
kau lihat, sebuah becak melanglang
di garis edar langit yang kosong
sendu melagukan tembang jawa
aku di sini pun sesat arah
tak menemu jejak sendiri
dan kau perempuan penanda
ingin mengakrabi remang cuaca?
di kota ini, bulan tak bakal ada
hanya angin yang terlampau buruk
mempersiangi kita…
karena itu, bacalah beku mataku
bacalah dengan hati yang sendu
berulang ulang nyeri akan menjadi batu!
Yogyakarta, Februari 2007
Sunlie Thomas Alexander
RENDEZVOUS (2)
--rumah sastra jebres; fadhila
seperti mimpi dan hati nero
yang terbuka pada kebeningan acte;
kebeningan dunia!
aku ingin mengajakmu
mencumbui setiap sudut bumi yang riang,
mungkin sembari mencari kemurnian puisi
hingga hati setiap orang berbuah;
bernyanyi dan menari bersama kita
menatapmu, selalu saja dunia baru tercipta
dan semua benda belumlah bernama
karena itu, aku ingin aromamu yang belia
melekat selamanya
lalu dengan puisi, kita akan memberi nama nama
pada setiap yang bernyawa dan tak bernyawa,
juga pada tuhan yang menjadikan
segala dari tiada
berjanjilah padaku
dengan kepolosan eva
untuk meleburkan waktu dan jarak,
perempuan penanda
agar luput ketakutanku
membakar roma—ah, kota-kota
yang bersemayam di hati yang lebam
dan kita terberkati di bumi tua
sebagai manusia!
Solo, Nopember 2007
Sunday, October 28, 2007
cerpen 5

Sunlie Thomas Alexander
MENGAPA masih saja kau cemaskan isyarat yang tumbuh pada matanya? Bukankah dia adalah takdir? Bagaimana kau harus menghindarinya?
“Apakah lebaran nanti, Abang pulang?” Tanyanya menatapmu malu-malu. Kau melengos, berpaling ke arah surau kecil di belakangmu. Sejenak kau bingung. Hendak menjawab ya, kau takut memberikan harapan sementara kau belum memiliki kepastian soal itu. Bila menjawab tidak, mungkin akan mengecewakan. Bagaimana kalau kau betul-betul pulang nantinya?
“Aku belum tahu.” Jawabmu jujur akhirnya. Kau lihat sepasang mata itu mengerjap. Lalu ia kembali mendongak ke atas pohon mangga yang berbuah lebat di muka surau. Kau ikut mendongak melihat buah-buah kecil yang bergantungan menarik hati itu. Kemudian kalian bersitatap.
Ah, sepasang mata itu semakin mencemaskan…
Atau hatimu yang terlampau bimbang. Melemparkan harap tetapi begitu ragu. Ingin sekali sesungguhnya, kau selalu memberikan kepastian kepada perempuan di hadapanmu itu. Tetapi kau ingat kekasihmu, tepatnya tunanganmu. Di tanah rantau. Seorang perempuan dengan jilbab lebar yang santun, selalu bertutur kata halus meski tak jarang berani menyindir terutama soal urusanmu dengan rokok. Kau mencintainya, tak ada kesangsian untuk hal tersebut. Tetapi agaknya kau teramat sadar, kalau perempuan yang bersamamu di depan surau itu sedikit demi sedikit mulai menguasai sekian tempat di hatimu. Tentu saja, terlalu konyol dan mengelikan untukmu berpikir soal poligami! Kau ingat sebuah tulisan Ayu Utami, bahwa lebih baik menyakiti Tuhan yang sudah begitu kuat daripada menyakiti pasangan kita yang lemah. Dan kekasihmu itu terlampau baik… Lagipula, kau tak yakin salah satu di antara mereka atau kedua-duanya berkenan dimadu! Kau selalu percaya, tak bakal ada keadilan untuk rasa ingin memiliki…
“Mangga-mangga ini pasti sudah ranum lebaran nanti, Bang.” Tukasnya lemah, seolah melemparkan sebuah penawaran menggoda bagimu. Kalau saja kau belum memiliki seorang kekasih di rantau, mungkin dengan segera kau akan menjawab, “Simpan untukku ya?”. Tetapi kau hanya diam, semakin gelisah. Udara diam-diam menciut.
***
KAU mengenal perempuan itu belum lama sesungguhnya. Lima bulan lalu, dalam sebuah acara sastra di pendopo rumah walikota ketika kau hadir membacakan cerpen. Dia duduk di sebelahmu, dengan wajah yang terlalu tenang untuk diajak berbincang. Tetapi kau nekat juga menawarkan kacang rebus padanya. Awalnya ia hanya menjawab terima kasih, lalu jawaban-jawaban lain yang sepotong-potong atas setiap pertanyaanmu. Sampai kau menanyakan asalnya, dan jawabnya agak mengejutkanmu. Ternyata ia sekampung denganmu!
Kau bersorak, dan segera mengatakan kalau kau juga berasal dari pulau kecil itu. Pulau yang selalu mengirimkan rindu, sekaligus luka. Entahlah, tiba-tiba saja kalian sudah akrab. Dan ia berubah menjadi sosok perempuan muda yang begitu ceriah, cerewet, dan manis. Pertukaran nomor telepon dan janji untuk saling menghubungi, kalian buat menjelang acara usai. Dan janji itu memenuhi kegenapannya, juga janji-janji lainnya kemudian. Kalian mulai bersepakat untuk membuat pertempuan demi pertemuan. Di Obonk Steak, lalu di tempat-tempat lain. Pertemuan-pertemuan yang pada awalnya begitu menggairahkan sebelumnya akhirnya berubah menjadi sesuatu yang mencemaskan.
Lantaran kau merasa melihat isyarat itu tumbuh pada sepasang matanya? Atau justru hatimu sendiri yang mulai melemparkan isyarat itu dengan tak tenteram. Perasaan menyayangi, kau tahu adalah suatu yang luhur, tetapi tidak demikian dengan perasaan ingin memiliki. Itu sesuatu yang menyiksa buatmu. Dan ia terlalu manis untuk disakiti, atau barangkali kau sendiri yang takut mengalami rasa sakit.
Kau mendongak sekali lagi, melihat mangga-mangga muda yang menunggu ranum di atas kepalamu. Serupa isyarat. Begitu mencemaskan.
***
BAPAKNYA seorang ustad kampung, seorang vegetarian dan percaya pada takdir yang menjadi hak utuh Sang Pencipta. Hal mana yang kau tak pernah menduga sebelumnya dari penampilan perempuan itu yang sedikit metropol. Orang tua yang ramah itu berulang kali melemparkan pertanyaan tentang maksud kedatanganmu dari jauh melintasi jarak hampir tiga ratus kilometer dengan sepeda motor, baik secara terang ataupun secara tersirat yang membuatmu merasa terjebak oleh situasi. Seperti tikus masuk perangkap, pikirmu naif. Kau hanya tertawa kecut, mencoba menghindar atas setiap pertanyaan itu dan arah tujuannya. Sementara perempuan itu melirikmu sambil tersenyum-senyum dari pintu dapur, di mana ia sedang mengikat buah-buah kelengkeng. Kau tersedak, ketika orang tua itu bercerita tentang makna pernikahan bagi seorang lelaki.
Persoalan keluarga yang mendadak, memang menuntutmu pulang ke pulau kecil itu setelah sekian lama kau selalu mengacuhkan kerinduan yang tumbuh untuk menjenguk ibumu, perempuan yang kau tahu, bertahun-tahun dirajam kesepian. Selama penerbangan Yogya-Jakarta-Pangkalpinang, wajah ibumu selalu membayangi benakmu, bergantian dengan wajah perempuan itu.
Akhirnya setelah urusan keluargamu mulai tampak jalan keluarnya, kau tak tahan lagi untuk tidak mengontaknya. Kau dengar ia begitu girang dalam suara ponsel. Ia segera menanyakan kapan kau akan main ke rumahnya, dan ia berjanji akan mencarikan kepiting untukmu sebagaimana janjinya di Yogya. Ya, ia sendiri baru sebulan kembali ke pulau kecil itu selepas wisuda sarjananya di sebuah kampus swasta di Yogya.
“Ibuku memintaku pulang. Beliau kesepian, cuma berdua dengan Bapak di rumah. Kau tahu, kakakku satu-satunya sudah berkeluarga di Surabaya, dan aku memang sudah terlalu lama berpisah dengan beliau, sejak aku SMA di Pangkalpinang lalu melanjutkan kuliah di sini,” tukasnya dengan nada yang getir pada pertemuan terakhir kalian di kontrakannya, “Padahal aku lebih betah di sini. Aku juga sudah dapat tawaran kerja dari seorang teman.”
Kau ingin sekali menyentuh tangannya, mengenggam jari-jemarinya yang halus. Tapi gagal menghimpun keberanian. Ia melirikmu dengan wajah sedih.
Ya, akhirnya kau mengunjunginya. Melahap jarak hampir tiga ratus kilometer dari kota kecilmu Belinyu, di utara Pulau Bangka sampai ke rumahnya di desa Perlang, sekitar lima belas kilo dari Koba, ibukota Bangka Tengah. Dan rumah itu, dengan sebuah surau kecil di depannya, begitu sejuk. Terletak di ujung kampung yang sepi dan banyak dipenuhi pepohonan. Kau merasa seperti menemukan sebuah oase selepas menempuh perjalanan jauh yang terik, melewati jalan-jalan tanah kuning dengan debu tebal berkepul.
Kerinduan itu membuncah seperti ombak. Menerpa batu-batu. Karang kangen dan waktu. Dan senyumnya begitu manis menyambutmu, melenyapkan segala rasa capek dan haus.
***
AH, pernah kau merasa begitu gerah dengan pulau kecil itu, dengan rumah. Dan dengan kepergian, kau ingin membasuh lukamu. Meskipun kau sadar, kepergiaan itu justru bakal menciptakan luka baru di hatimu dan menoreh luka yang lebih dalam di hati ibumu. Tetapi dendammu, pada bapakmu, membuatmu garang mengemasi ransel lalu bertolak seperti serdadu ke medan perang yang tak berharap kembali ke rumah. Ibumu hanya menangis diam-diam, dan di wajahnya yang lelah, yang mulai keriput dimakan usia, kau melihat keikhlasan yang sia-sia dibangun.
“Ke mana Bapak, Bu?” berulang-ulang dulu kau tanyakan hal itu kepada perempuan yang melahirkanmu. Tetapi Ibu selalu saja menggeleng. Di matanya, kau seolah melihat tungku dapur. Dan kau mengerti, hati perempuan itu tabah sebagaimana batu tungku, dari api dan lelaki. Maka kau pun pergi meninggalkannya, menggenapi kesepiannya. Seolah dengan itu kau melampiaskan dendam pada Bapak dan kepergiannya. Sekalian mewujudkan kodratmu sebagai laki-laki. Kata orang, kodrat lelaki muda adalah menjadi anak panah, melesat lepas dari busurnya.
Ketika kau kembali akhirnya, adakah ibumu, perempuan yang berkarib dengan bumbu dan tungku itu akan mengerti. Atau ia akan teramat mafhum, kalau pada gilirannya seorang lelaki memang akan kembali juga. Bukan ke pangkuannya, tetapi kepada seorang perempuan lain yang sempurna menggoda hati. Seperti dulu ia menggoda hati lelakinya, bapakmu. Untuk menetap dan membangun tungku. Tetapi toh, pada akhirnya Bapak tak sanggup bertahan pada janjinya, pada batu tungku.
Ketika Bapak kemudian kembali lagi untuk kedua kali, lelaki yang tak sanggup bersetia itu hanya tinggal nama, dendam, dan urusan rumah warisan kakekmu yang pelik. Urusan yang menuntutmu pulang sebagai satu-satunya anak lelaki darinya, meski kau ingin sekali menghindari segala sengketa. Sekecil apapun dengan para paman dan bibimu. Tidak, tidak bukan karena urusan harta. Kau sama sekali tak peduli itu. Tetapi kau merasa mereka, paman dan bibi-bibimu, harus tahu kalau ibumulah yang bertahun-tahun merawat rumah tua itu dengan kasih sayang, luka dan kesepiannya tanpa mereka mau peduli. Dan rumah itu adalah segalanya bagi ibumu: kesepian, dendam, dan kenangan cintanya yang manis. Dan itu tak boleh dirampas, karena sama saja dengan merampas hidupnya.
Selebihnya adalah sebuah alasan yang malu untuk kau akui ini: ya, perempuan itu! Perempuan yang menggoyang keraguanmu akan cinta, akan kesetiaan. Sebagaimana seorang perempuan lain menggoyang keraguan Bapak akan cinta dan kesetiaan.
***
PEREMPUAN yang mengantarmu ke ambang keraguanmu. Membuatmu termangu, menatap buah-buah mangga muda yang menunggu ranum di muka surau di depan rumahnya. Rumah yang seolah menawarkan kesejukan, juga hangat tungku dan harum bumbu dapur.
“Adakah lebaran nanti, Abang pulang?” Kau sedikit terbadai oleh pertanyaan itu. Sementara wajah kekasihmu di rantau, perempuan sederhana yang pernah membasuh rindumu pada Ibu lekat pada ruang benak. Tetapi wajah perempuan di hadapanmu itu seperti takdir. Diciptakan untuk menjadi nyata.
Betapa kau mencemaskan isyarat yang bertumbuh pada sepasang matanya… Bagaimana kau menghindari takdir itu?
Kau tak tega memilih seperti Bapak. Tak tega. Lantaran ingatan pada luka dan kesepian Ibu? Kau ingin menceritakan kecemasanmu itu kepadanya, tapi mulutmu tak sanggup berkisah. Sebagaimana mulut Ibu yang selalu saja bungkam untuk mengisahkan kesepian, dendam, dan lukanya.
Kini kau sudah sampai di batas keraguan yang menyiksa. Ketika teman-temanmu mulai memesan tiket bis atau pesawat, ketika mereka berkisah tentang rumah yang damai. Kau hanya diam, pun saat kekasihmu menawarkan suasana lebaran yang bersahaja di rumahnya, sekaligus menawarkan pemenuhan janji yang kalian buat bersama di depan orang tuanya dan sejumlah kerabat lain.
“Habis lebaran nanti kita akan segera menjadi suami-isteri. Aku ingin jadi pengantin yang manis. Ibu Mas jadi datang kan?” Bisik kekasihmu dengan mesra selepas tarawih. Kau tidak menjawab, tetapi hanya menatap senyumnya yang tampak begitu bahagia.
Sementara, di Perlang, kau tahu, mangga-mangga muda yang bergantungan menggoda di depan surau itu mungkin sudah mulai ranum.***
Yogyakarta, Lebaran 2006
buat Rostating: I Miss You!
Tuesday, September 25, 2007
esai
Oleh: Sunlie Thomas Alexander
“SHOW me just what Mohammed brought that was new, and there you will find things only evil and inhuman, such as his command to spread by the sword the faith be preached.” (Tunjukkan padaku apa yang baru yang dibawa oleh Muhammad, dan di situ Anda hanya akan mendapatkan sesuatu yang jahat dan tidak manusiawi, seperti perintahnya untuk menyebarkan keimanan yang didakwahkannya dengan pedang).
Pernyataan Paus Benediktus XVI mengutip buku karya Theodore Khoury dalam kuliahnya di Aula Magna Universitas Regensburg, Jerman, 12 September 2006 yang membuahkan kemarahan umat Islam di seluruh dunia itu, kiranya tidak melulu harus kita pahami sebagai sebuah sikap Barat (tidak selalu identik dengan Kristen) dalam memandang Islam. Pernyataan dalam buku itu sebenarnya merupakan dialog antara Kaisar dengan seorang intelektual dari Persia tentang Islam dan Kristen, yang kebetulan dikutip oleh Sri Paus secara agak sembrono dan barangkali dimaksudkannya sebagai kritik terhadap penyebaran keimanan dengan kekerasan yang diarahkannya pada Islam.
Sejak berabad-abad silam, bahkan sebelum Eropa keluar dari zaman kegelapannya, Timur (Islam) memang tak hanya dipandang sebagai sebuah dunia yang terbelakang dan barbar—meskipun juga eksotik—oleh Barat. Hingga studi para orientalis kemudian membakukan Timur (Islam) sebagai “the other” dengan stigma yang tak juga berubah. Kecenderungan yang kemudian justru diikuti oleh Timur (Islam) dengan sedikit konyol dan tidak seimbang dengan sebuah studi kajian berkesan membalas dendam yang kita kenal sebagai Oksidentalisme.
Cara pandang (atau konsep) Barat terhadap Timur (Islam), dan Timur (Islam) terhadap Barat ini merupakan persoalan kompleks yang mesti terus-menerus kita cermati. Karena model-model pemahaman tersebut seringkali bukan berdasarkan pada kajian tipoligi resmi, tetapi hanya sekedar pengamatan atas realitas di masyarakat yang perlu diklarifikasi lebih jauh. Harus dipertanyakan lanjut, misalnya adakah pemahaman subjektif tersebut memang sesuai dengan keadaan objektif yang dipahami. Jika tidak, kita hanya akan selalu terjebak pada konsep-konsep sentral yang selalu dihadapkan secara oposisi biner: vis a vis.
Kondisi seperti ini—sebagaimana yang diungkapkan Edward Said—adalah kecenderungan memberi label yang bersifat generalizing (generalisasi), tanpa melihat nuansa-nuansa lembut dan kecil-kecil dalam kehidupan nyata, menjadi salah satu kecenderungan kuat dalam media Barat. Dari waktu ke waktu, prasangka semacam ini selalu kembali muncul ke permukaan.
Setiap suatu peristiwa tragis terjadi di dunia Islam atau di dunia Barat yang ada sangkut-pautnya dengan dunia Islam, prasangka itu akan hadir kembali. Demikian pula dengan umat Islam, ketika mendengar pemerintah Amerika Serikat dan negara-negara Barat lainnya menyerang Afganistan dan Irak, reaksi yang muncul dari sebagian besar umat Islam adalah seruan berjihad untuk berperang, bahkan disertai pengusiran masyarakat sipil dari negara-negara bersangkutan. Jadi bukan hanya Barat yang melakukan generalisasi, Islam pun melakukan hal serupa. Seruan jihad jadi punya makna sakral yang ekstrem, yaitu berperang atau melakukan kekerasan demi membela kehormatan agama.
Terorisme berjubah agama yang muncul pasca 11 September 2001 sedikit banyak memang telah mengganggu hubungan Barat dengan Islam. Tanpa bermaksud membesar-besarkan, gangguan tersebut cukup memprihatinkan. Kebijakan pemerintah negara-negara Barat diasumsikan selalu diarahkan pada pemojokan umat Islam. Seolah-olah menegaskan bahwa pelaku teror tersebut adalah representasi dari karakter umat Islam secara keseluruhan. Tanpa sadar, terkadang sebagian umat Islam pun terbawa pada prasangka bahwa perang terhadap terorisme yang diserukan Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya mengandung arti perang terhadap umat Islam.
Terorisme dan Sejarah Tuhan (Agama) Yang Kelam
Terorisme adalah sebuah kriminalitas, suatu kejahatan kemanusiaan yang tak bisa ditolerir. Pandangan serta nilai-nilai yang mendasarinya sangat berbahaya bagi keamanan dan perdamaian. Terorisme berjubah agama yang menjadikan masyarakat sipil sebagai sasaran teror jelas amat kita sesalkan dan kita kutuk. Karena peristiwa semacam ini secara tak sengaja telah membangkitkan “persepsi lama” Barat dalam memandang dan menilai Islam sebagai masyarakat yang tidak menghargai HAM, menyenangi tindak kekerasan, memasung kebebasan, diskriminatif, eksklusif, dan menyebarkan agama dengan pedang. Meskipun persepsi semacam ini tidaklah muncul dalam wacana akademik, sebagaimana studi orientalisme, pengaruhnya cukuplah luas di masyarakat Barat. Bahkan, lantaran menyentuh sensitivitas emosi, “persepsi lama” ini lebih besar dampaknya. Banyak warga Amerika dan Eropa memandang sinis umat Islam, terutama Muslim Imigran.
Terorisme berjubah agama memang tidak secara tegas merepresentasikan adanya benturan antara Islam dan Barat. Islam ditarik ke dalam sebuah ruang yang dipersalahkan karena pelakunya berasal dari kelompok yang beragama Islam, yang jumlahnya boleh dikatakan sangat sedikit. Walau kita bersikeras untuk menampik bahwa aksi teror yang terjadi sepanjang dasawasa terakhir di beberapa negara, termasuk Indonesia, merupakan representasi dari gerakan Islam dan mencerminkan sikap keseluruhan umat Islam, bangkitnya “persepsi lama” dalam masyarakat Barat tak gampang untuk dihentikan begitu saja. Masyarakat Barat sudah terlanjur menilai dan menyakini pelaku teror tersebut merepresentasikan umat Islam.
Kenyataan sejarah selama berabad-abad, dan kecenderungan politik yang terjadi di era sekarang, membuat Samuel Huntington misalnya, memprediksikan bahwa, “Suatu hal yang amat krusial dan mendasar tentang apa yang muncul di dalam politik global pada tahun-tahun mendatang, merupakan konflik yang ditimbulkan oleh perbedaan di antara dan di kalangan peradaban-peradaban.”
Jauh sebelum Perang Salib (Crusaders), kalangan Gereja sesungguhnya telah berupaya mengendalikan sedemikian banyak perilaku perang pada para pengikutnya, sehingga dibukalah gerakan Peace of God, yang dideklarasikan di Konsili Le Puy (975 M). Akan tetapi yang terjadi adalah sebaliknya. Menurut James T. Johnson, gerakan Peace of God, meskipun dimaksudkan untuk mereduksi kekerasan di Dunia Kristen, namun pada praktiknya telah membantu membentuk konteks sejarah yang menyebabkan Perang Salib menjadi suatu kemungkinan.
Terorisme dewasa ini, adalah terminologi yang dipropagandakan oleh Amerika Serikat dan para sekutunya dengan melekatkannya pada gerakan-gerakan Islam Politik dan Islam ideologis. Istilah ini awalnya dipopulerkan oleh majalah The Foreign Affairs. Sebelumnya aktivitas-aktivitas kekerasan dengan kebuasan yang melampaui batas untuk menimbulkan rasa takut luar biasa disertai jatuhnya korban secara acak dalam rangka mencapai tujuan politik, lebih sering disebut sebagai ‘urban querilla’ (gerilya kota). Ada nuansa heroisme dalam istilah ‘urban querilla’ ini, yaitu istilah yang memiliki arti perjuangan mencapai suatu cita-cita dengan cara gerilya. Tetapi, sejak awal 1990-an, istilah ini pelan-pelan lenyap dan digantikan dengan istilah terorisme yang disertai predikat istilah “Terorisme Islam”. Konon, semua ini diciptakan dengan maksud memprakasai dan membangun konflik internasional (baca: The Global War on Terrorist). Parick J. Buchanan dalam tulisannya, “Is Islam an Enemmy of The United States?” mengemukakan, “Bagi sebagian orang Amerika yang mencari musuh baru guna menguji coba kekuasaan setelah runtuhnya komunisme, Islam adalah pilihannya.”
Kenapa Islam menjadi pilihan? Jawabannya barangkali tidak dapat dilepaskan dari keinginan AS untuk tetap mempertahankan dominasinya di dunia. Setelah berakhirnya era Perang Dingin, Blok Timur runtuh, AS agaknya menilai bahwa dunia Islam adalah musuh potensial yang bakal mengganjal keinginan AS. Guru besar Sarah Lawrence College, Fawaz A. Gergez dalam buku “America and Political Islam” menyatakan, meski para peminpin AS menolak hipotesis Clash of Civilization, kebijakan AS pasca Perang Dingin memang sangat dipengaruhi oleh ketakutan adanya ancaman Islam (Islamist Threat). Hal ini diperkuat oleh pendapat kaum intelektual konfrontasionis seperti Bernard Lewis, Huntington, dan Liddle. Bahkan awal 1992, Presiden Israel sebagaimana dikutip The Guardian (19/6/1992) menyatakan, “Penyakit (Islam Fundamentalis) sedang menyebar secara cepat dan merupakan sebuah bahaya tidak hanya untuk masyarakat Yahudi, tetapi juga bagi kemanusiaan secara umum.”
Bila kita harus mengikuti hipotesa Huntington dalam “Benturan Antarperadaban”, kita akan dibawa pada sebuah kesimpulan adanya sekian banyak fakta yang secara otomatis, tanpa bisa ditolak, menciptakan jurang perbedaan di antara peradaban-peradaban, antara lain perbedaan pandangan hidup, dunia yang kian mengerucut oleh globalisme, proses modernisasi ekonomi dan perubahan sosial yang mengakibatkan tercerabutnya masyarakat dari akar identitas lokal, berkembangnya kesadaran peradaban (civilization consciousness) akibat peran ganda Barat, dan regionalisme ekonomi yang semakin meningkat. Huntington menyebutkan ada delapan peradaban besar, yaitu Barat, Konfusius, Jepang, Islam, Hindu, Slavik, Ortodoks, Amerika Latin dan Afrika. Pertanyaannya adalah peradaban manakah yang kemudian akan saling berbenturan secara vis a vis? Ia menjawab pertanyaan ini dengan memprediksi bahwa benturan tidak akan terjadi di antara kedelapan peradaban tersebut, namun potensi yang terbesar adalah antara Barat dengan koalisi Islam-Konfusius. Dan benturan ini menurutnya terjadi lantaran tiga hal pokok, yakni hegemoni arogansi Barat, intoleransi Islam, dan fanatisme Konfusionis. Tetapi sampai saat ini, Konfusionisme (pasca kebangkitan China) dipandang Barat sebagai sebuah peradaban masih dapat diajak berdialog dan memiliki sikap lebih terbuka.
AS memang tidak memerangi Islam (atau umat Islam) secara keseluruhan, tetapi lebih tertuju pada orang atau kelompok yang pikiran dan tindakannya bertentangan dengan AS, karena itu dikhawatirkan mengancam kepentingan AS. Pada awalnya, gerakan-gerakan Islam memang dikhawatirkan akan mengancam penguasa dari negeri Muslim yang selama ini tunduk pada AS dan mampu menjaga kepentingan AS di negerinya. Tetapi pada tahap selanjutnya, jika perkembangan gerakan Islam terjadi di mana-mana, dicemaskan pada akhirnya bakal mengancam kepentingan AS secara luas.
Apakah memang benar ajaran Islam adalah ajaran teror dan kekerasan? Atau benarkah teroris lebih banyak berasal dari kalangan yang mengaku Islam? Kenyataan sejarah membuktikan bahwa kekerasan yang dikaitkan dengan fundamentalisme tidak hanya berasal dari kalangan Muslim. Nuansa kekerasan fundamentalisme ada dan muncul dalam semua agama dan telah menjadi respon mengglobal terhadap ketegangan kehidupan di abad kita dan abad-abad sebelumnya. Menurut Karen Armstrong (2001: xi): Hindu radikal turun ke jalan-jalan untuk membela sistem kasta dan menentang Muslim India; kaum fundamentalis Yahudi melakukan penghunian ilegal di Tepi Barat dan Jalur Gaza serta bersumpah untuk mengusir semua orang Arab dari Tanah Suci mereka; “Moral Majority” yang dipimpin Jerry Falwell dan “Christian Right” yang menganggap Uni Sovyet sebagai kerajaan setan, mencapai kekuasaan yang hebat di Amerika Serikat selama tahun 1980-an. Maka, adalah kesalahan menganggap ekstremis Muslim sebagai ciri keimanan umat Muslim.
Sejarah Tuhan (baca: agama)—seperti yang diungkapan Karen Armstrong dalam bukunya “A History of God”—di seluruh muka bumi adalah sejarah kelam dan berdarah-darah. Ketika kelompok Syi’ah di Lebanon melakukan penyanderaan atas nama Islam, adakah orang-orang di Eropa dan Amerika yang secara alamiah terpukul oleh Islam, menyadari kalau perilaku tersebut bertentangan dengan peraturan penting yang tercantum dalam Al Qur’an tentang penahanan dan perlakuan terhadap tahanan?
Jika fundamentalisme tampak matang di dunia Muslim khususnya, mungkin ini semata-mata karena ledakan populasinya. Kelompok teroris Irlandia dan kelompok teroris Tentara Merah, sama sekali bukan dari kalangan Muslim. Pelarangan jilbab di Turki dan Perancis, bukankah juga teror sekaligus pelanggaran HAM? Mereka memang selalu membawa simbol agama, tetapi ajaran Islam sendiri sebenarnya sama sekali bukan agama yang bernuansa teroris. Seperti yang dikatakan Karen Armstrong, kejahatan teroris jangan disalahkan kepada agama Islam, karena justru merupakan perilaku yang sangat bertentangan dengan nilai-nilai Islami yang luhur. Sangat banyak ayat Al Qur’an yang melarang kekerasan, pembunuhan dan perusakan di muka bumi ini. Allah menyamakan orang yang membunuh sesama manusia (kecuali dalam peperangan) sebagai seakan-akan telah membunuh manusia seluruhnya, artinya telah menghancurkan kemanusiaan (Al-Maidah: 32); Kutukan terhadap orang yang membuat kerusakan di muka bumi (Al-Maidah: 33, Al-Araf: 56); Bahwa Allah tidak menyukai kebinasaan (Al-Baqarah: 204-206); dan jika aksi teror itu khusus menimbulkan korban jiwa di kalangan Muslim (An-Nisa: 93). Selain ayat-ayat di atas, masih banyak lagi ayat yang membuktikan ajaran Islam sebenarnya anti terorisme.
Islam Harus Membaca Diri
Ada telaah menarik dari Amin Malouf dalam bukunya “In The Name of Identity”, di mana menurutnya dalam sejarah perbandingan dunia Kristen dan Islam, kita akan menemukan di satu sisi sebuah agama yang sejak lama intoleran dengan tendensi yang jelas pada totalitarianisme, tetapi secara berangsur-angsur berubah menjadi agama keterbukaan; dan di sisi lain, kita akan menemukan sebuah agama dengan watak keterbukaan yang berangsur-angsur terdorong menuju praktek-praktek yang intoleran dan totaliter.
Pertanyaannya adalah mengapa dunia Kristen (tidak selalu identik dengan Barat) yang memiliki tradisi panjang intoleransi dan selalu menganggap diri sulit hidup berdampingan dengan “yang lain” bisa menghasilkan sebuah masyarakat yang menghargai kebebasan berekspresi, sementara dunia Islam yang telah sejak lama menjalankan koeksistensi, kini justru terlihat seperti sebuah kantong fanatisme?
Mungkin jawaban sementara adalah dunia Kristen (tidak selalu identik dengan Barat) mau belajar dari sejarah gelapnya sendiri yang panjang dan berlumuran darah: sejarah Inquisisi, perang Katolik-Protestan, Perang Salib, permusuhan terhadap filsafat dan sains, dan banyak lagi. Pekatnya sejarah Gereja telah membuat umat Kristen terbuka matanya dan tergugah untuk mereformasi diri, di antaranya upaya Gereja Katolik Roma melalui Konsili Vatikan II tahun 1960-an, yang menghasilkan sebuah pandangan baru tentang dunia non-Kristen, di mana pandangan tak ada keselamatan di luar Gereja dan orang beragama lain adalah kafir dipertanyakan kembali secara kritis dan humanis.
Sedangkan Islam, pada perkembangannya justru melupakan sejarah yang penuh kedamaian dan keterbukaan seperti yang tersurat dalam Piagam Madinah, Kejayaan Istanbul di akhir abad 19 yang berisi penduduk mayoritas non-Muslim terutama Yahudi, Armenia, dan Yunani. Atau program penerjemahan besar-besaran dari tradisi Yunani, Persia, dan India yang menghasilkan kemajuan besar dalam sains dan filsafat pada abad ke 7-15 di Baghdad, Damaskus, Kairo, Cordova, dan Tunisia pasca runtuhnya kekhilafahan.
Jika bicara tentang dendam dan rasa sakit hati, justru Islamlah yang harus dipertanyakan, apakah sikap eksklusif dan intoleran yang dikembangkan oleh kelompok-kelompok fundamentalisme-radikal-literalnya bukan karena merasa termarjinalkan oleh hegemoni Barat dalam berbagai aspek kehidupan sosial-budaya-politik global, dan tidak bisa menerima titik balik peradaban?
Jihad adalah Perang?
Islam sesungguhnya memang bukan agama kekerasan, justru Islam merupakan sebuah agama yang berprinsip “rahmatan lil alamin”, menyebarkan perdamaian ke seluruh alam. Namun, Islam memiliki hukum-hukum yang memperbolehkan perang dengan dalih melindungi dakwah, kehormatan, harta, jiwa dan negeri kaum Muslim. Hukum-hukum itulah yang dikenal sebagai “jihad fi sabilillah”.
Para fukaha mendefinisikan “jihad fi sabilllah” sebagai pengerahan kekuatan untuk memerangi musuh dalam rangka meninggikan kalimat Allah, dengan peperangan langsung di medan pertempuran ataupun memberikan bantuan keuangan, logistik, bahkan pendapat-pendapat dalam strategi dan taktik, termasuk pidato yang membakar semangat para mujahidin agar siap menyongsong kemenangan dan mati syahid.
Dan di sinilah sebetulnya letak persoalannya. Ayat-ayat Al Qur’an maupun Al Sunnah seringkali dipahami secara hitam-putih dan asal-asalan—tanpa mau menerima dialog dalam jenis apa pun—oleh kelompok-kelompok fundamentalis-radikal-literal Islam. Mereka selalu melegitimasi kekerasan dengan berbagai ayat Qur’an dan Hadits untuk membakar tempat ibadah orang lain, menganggap darah non-Muslim (baca: kafir) adalah halal—demikian pula harta bendanya halal dirampas, menyerukan pembalasan dendam terhadap Amerika, ataupun mengobarkan semangat kebencian terhadap pihak-pihak yang berseberangan (termasuk terhadap kelompok-kelompok Islam yang lain). Kelompok-kelompok ini sulit untuk diajak berdialog bukan saja karena paradigma berpikir mereka yang sudah terkonstruksi sedemikian rupa, tetapi juga prinsip mereka yang “pokoknya…” Mereka seolah-olah mengklaim diri mereka sebagai pemilik kebenaran, antara lain dengan menghakimi kelompak lain dalam Islam sendiri yang mereka anggap sesat.
Hal semacam ini mungkin memang tidak mengherankan, bila kita mencermati sikap mereka dalam menafsirkan teks-teks agama yang condong ke pandangan hurufiah. Mereka juga suka mengoral retorika anti Barat yang sekaligus artinya anti Kristen. Padahal makna jihad yang sesungguhnya sangatlah berlawanan. Al Qur’an dan Al Sunnah mengisyarakan perang (angkat senjata) hanya jika umat Islam dalam posisi diserang dan semata-mata untuk membela diri, atau untuk melenyapkan kekufuran (fitnah) dan demi membela yang tertindas tanpa melihat agama mereka, sebagaimana yang dikatakan QS Al-Baqarah 2:190: “Perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kalian, tetapi janganlah kalian melampaui batas, karena Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.”
Tetapi dalam memahami ayat-ayat Qur’an maupun Hadits mengenai permasalahan jihad seperti ini, kelompok-kelompok fundamentalis-radikal-literal tersebut kerap kali tidak pernah melihat latar belakang atau konteks yang mendasari turunnya ayat-ayat tersebut atau apa yang mendorong Rasulullah mengeluarkan kata-katanya. Mereka dengan gampang menafsirkan ayat-ayat jihad dan Al Sunnah, misalnya QS. At-Taubah 9:29 yang berbunyi: “Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan pada hari akhir, juga orang-orang yang tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan RasulNya, tidak beragama dengan agama yang haq (benar), yaitu dari kalangan orang-orang yang telah diberikan kepada mereka al-Kitab sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedangkan mereka dalam keadaan tunduk” atau HR. al-Bukhari dan Muslim yang bunyinya: “Aku ini diutus untuk memerangi manusia hingga mereka mengatakan tidak ada tuhan yang patut disembah kecuali Allah serta mengimaniku. Jika mereka mengatakannya, berarti darah-darah dan harta mereka terlindungi dariku, kecuali atas hak-hak Islam.”, juga ayat “Bunuhlah orang-orang musyrik itu di mana saja kalian jumpai.” (QS At-Taubah 9:5), dengan melarang non-Muslim mendirikan tempat ibadah, membakar tempat-tempat ibadah non-Muslim, menyerang diskotik dan pub karaoke, atau pun membubarkan dengan paksa acara-acara yang digagas oleh kelompok yang mereka anggap musuh seperti yang baru-baru ini terjadi dalam rapat Papernas di Kaliurang, Yogyakarta. Belum lagi ayat-ayat seperti QS. Al-Baqarah 2:120 yang berbunyi: “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kalian hingga kalian mengikuti agama mereka.” yang ditafsirkan dengan penuh kebencian dan dendam.
Pembacaan atas teks ayat-ayat Qur’an dan Hadits Nabi yang sepotong-sepotong, tidak melihat konteks, dan secara hurufiah, baik dengan sengaja ataupun lantaran “ketidaktahuan” semata oleh kelompok-kelompok Islam fundamentalis-radikal-literal inilah yang seyogyanya semakin menjerumuskan Islam ke dalam “persepsi buruk” yang dimaknai oleh Barat. Belum lagi mereka yang terjebak dalam fasisme-nostalgia kejayaan masa silam Islam di zaman kekhilafahan dengan mengembangkan cita-cita dan misi mendirikan negara Islam khilafah (Bandingkan dengan Benito Mussolini (Italia) yang mencita-citakan bangkitnya kejayaan Imperium Romawi di masa Perang Dunia II).
Mereka dengan terang-terangan menyerukan kepada umat Islam untuk berperang secara fisik, contohnya melawan AS, bukan sekadar seruan untuk menghujat dan mengutuk invasi AS. Bagi mereka, kaum Muslimin yang menyerukan perdamaian dan anti perang sama saja dengan kaum kafir yang meniupkan propaganda dan strategi licik untuk memberangus ajaran Islam yang mulia, yakni jihad dan futuhut untuk menaklukkan berbagai negeri. Ayat yang dipakai untuk melegitimasi hal ini adalah QS. At-Taubah 9: 29, sebagaimana yang telah dilakukan oleh sebagian kerajaan Islam di masa lampau. Padahal selama berabad-abad di Asia contohnya, para musafir dan pedagang Islam telah menunjukkan jalan dakwah yang lebih damai dan indah, yaitu jalan dagang.
Untuk menguatkan dalih, mereka misalnya mengutip tafsiran sekelompok ulama bahwa ayat 190 surat Al-Baqarah, di mana Rasulullah hanya memerangi (secara defensif) siapa saja yang memerangi beliau dan menghentikan perang terhadap orang yang tidak memerangi beliau, telah dihapus oleh surat At-Taubah ayat 5 yang berbunyi, “Perangilah kaum musyrik itu semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kalian semuanya.” Dengan ayat itu, jihad bagi mereka tidak lagi defensif semata, tetapi juga ofensif.
Karena itu, tuduhan Barat kalau Nabi Muhammad SAW adalah Nabi yang menyebarkan dakwah dengan pedang, sebagaimana yang ditampilkan dalam bentuk karikatur olok-olokan oleh media massa Denmark misalnya, bisa jadi merupakan akibat dari pemahaman “tak senonoh” kelompok-kelompok Islam fundamentalis-radikal-literal itu sendiri atas sosok Rasulullah yang “mereka cintai”.
Menurut mereka, kata “qital” merupakan bentuk “mashdar” (gerund) dari “fi’l qatala” (qatala, yuqatilu qital[an], muqatalat[an]) yang tidak bisa lain berarti perang secara fisik, dan merupakan makna jihad secara syar’i. Muhammad Khair Haykai menyatakan, bahwa pengertian syar’i dari jihad adalah “al-qital fi sabilillah bisyuruthihi” (jihad adalah perang di jalan Allah dengan berbagai ketentuannya). Lebih lanjut ia mengatakan bahwa jika kata jihad dinyatakan tanpa indikasi maka yang dimaksudkan adalah jihad dalam makna syar’i, yaitu perang fisik.
Penutup
Menurut saya, umat Islam harus lebih banyak melakukan intropeksi dan terus-menerus mewaspadai gerakan-gerakan di dalam tubuh Islam sendiri seperti yang dilakukan oleh kelompok-kelompok fundamentalis-radikal-literal tersebut, bila tidak ingin peradaban Islam semakin terpuruk dalam kebodohan dan ketinggalan maupun kian terjerumus ke dalam stigma “agama galak” yang dilemparkan oleh Barat.
Pandangan kelompok-kelompok fundamentalis-radikal-literal ini (tokoh Islam Liberal, Ulil Abshar-Abdalla menyebutnya sebagai “Islam Gembar-Gembor”, tetapi saya lebih suka menyebut “Islam Teriak-Teriak”) akan menjadi semakin berbahaya karena belakangan ini tampaknya gerakan mereka dalam menancapkan pemikiran maupun pengaruh ideologi kian intensif, konsisten, dan mendapatkan respon (baca: penerimaan).
Rasulullah SAW sendiri telah memperingati kita semua bahwa, “Sesungguhnya bukanlah Yahudi atau Nasrani yang akan menghancurkan Islam, tetapi umat Islam sendiri.” (HR. al-Bukhari-Muslim). Astaghfirullah!***
BAHAN BACAAN:
1. Huntington, Samuel P. Benturan Antarperadaban; Dan Masa Depan Politik Dunia. Yogyakarta: Penerbit Qalam, 2003.
2. Zarkasyi, Hamid Fahmy. Memahami Barat. Jurnal ISLAMIA Vol. III No. 2.
3. Ismail, Abu. Di Balik Perang Salib Baru. Majalah al-wa’ie No. 31 Tahun III, 1-31 Maret 2003.
4. Amhar, Dr. Fahmi. Menyambut Perang Salib Baru. Majalah al-wa’ie No. 31 Tahun III, 1-31 Maret 2003.
5. Abdurrahman, A. Humam. Persekongkolan Para Penguasa Muslim. Majalah al-wa’ie, No.33 Tahun III, 1-31 Mei 2003.
6. Al-Khaththath, Muhammad. Jihad Adalah Perang; Tafsir Surat Al-Baqarah 190-191. Majalah al-wa’ie No. 33 Tahun III, 1-31 Mei 2003.
7. ______________, Al-Qital (Perang). Majalah al-wa’ie No. 33 Tahun III, 1-31 Mei 2003.
8. ______________, AS Memang Membidik Islam; Wawancara dengan Jubir HTI Muhammad Ismail Yusanto. Majalah al-wa’ie No. 60 Tahun V, 1-31 Agustus 2005.
9. Armas, M.A., Adnin. Pengaruh Kristen-Orientalis Terhadap Islam Liberal. Jakarta: Gema Insani, 2003.
10. Armstrong, Karen. Perang Suci. Jakarta: Serambi, 20
11. Armstrong, Karen. Sejarah Tuhan. Bandung: Mizan, 2001.
12. Maalouf, Amin. In The Name of Identity. Yogyakarta: Resist Book, 2004.
13. Smith, Huston. Agama-agama Manusia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2001.
14. Basya, Hilaly. Islam, Barat, dan Terorisme. www.cmm.or.id, 13 April 2007.








